Thursday, July 30, 2015

Mengambil pelajaran dari Zakaria

Banyak kisah dalam al-Qur’an menjadi pemegang peranan penting dalam kehidupan seorang muslim. Banyak yang terinspirasi dan tercelup dalam cahaya Qur’an melalui kisah pembangun jiwa dari Al-Qur’an.

Zakaria alaihi salam, hamba Allah yang shalih, nabi yang mulia, bapak dari nabi Allah Yahya alaihi salam, dan guru mulia dari wanita suci yang diabadikan dalam Qur’an; Maryam ibunda Isa alaihi salam.

Kisah Zakaria diabadikan dalam al-Qur’an tatkala dia gundah dengan uban yang sudah mulai memenuhi rambutnya, umur yang sudah tua, badan yang tak lagi kuat, dan istri mandul. “Ya Tuhanku, sungguh tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kesewa dalam berdoa kepada-MU, ya Tuhanku”. Zakaria mengadu pada sang ilahi rabbi Allah swt tentang kegelisahan dan kegundahan karena tak kunjung diberi anak keturunan yang akan melanjutkan pesan kenabian ,serta melanjutkan amanah dari keturunan bani ya’qub alaihi salam.

Dari semua sunnatullah (sebab-sebab Allah menjadikan sebuah perkara) yang ada pada dirinya, zakaria sadar dan faham betul bahwa usahanya untuk terkabulnya hal tersebut adalah tidak mungkin. Namun dia paham semuanya bisa saja berubah dengan nushratullah (pertolongan Allah) dan qudratullah (taqdir yang Allah tetapkan pada sebuah perkara), maka doa dan harap pada sang pemilik alam semesta dan pemiik segala urusan tak terhenti dari lisan dan hati Nabiullah Zakaria alaihi salam.

Dus, Allah dengar dan perkenankan harapan dari Zakaria, pun zakaria terbingung mengapa doanya didengar, padahal dia sudah tua dan istrinya adalah seorang wanita yang mandul. Allah berfirman pada zakaria “Hal itu mudah bagi-KU; sungguh, engkau telah aku ciptakan sebelum itu, padahal (waktu itu) engkau belum berwujud sama sekali”. Bertasbihlah zakaria mensyukuri nikmat dari Allah swt.

Dari zakaria kita belajar bahwa ketika segala sunnatullah (hukum Alam) yang terpikir dalam logika berpikir manusia, sudah tidak memungkinkan lagi menjadi sebab dalam mendapatkan sesuatu; Allah masih memiliki cara untuk mewujudkannya melalui nusratullah dan qudratullah yang dimiikiNya. Hal inilah yang menjadi hadiah kejutan dan keajaiban yang Allah berikan pada hambanya yang tiada putus asa dalam hatinya.

Pun, hari ini kita masih sering mendengar dan mungkin merasakan sendiri hadiah kejutan dari Allah di waktu dan tempat yang tepat yang menjadikan kita menjadi hamba yang bersyukur dan bertaqwa.

Apa hadiah kejutan yang pernah anda dapatkan?

Semoga Allah limpahkan rahmat dan kukuhkan istiqamah setelah melewati madrasah Ramadhan

Yogyakarta 27 Juli 2015,
@fahmibasyaiban

0 komentar:

Post a Comment