Friday, January 26, 2018

Kopi dan Menajamkan Pikiran



Pekan lalu, saat masih berada sebelah utara pulau Sulawesi, ada kawan yang mengajak diskusi tentang tugas mata kuliahnya ttng Iranian Studies. Diskusi diawali sebuah tema agak berat tentang Khomaeni dan Ali Syariati dalam revolusi Iran 1979. Ujung dari diskusi ini adalah membuat sebuah outline makalah yang akan dikumpulkan sebagai tugas mata kuliah Iranian Studies KTT UI. 

Sebelum diskusi dimulai, tanpa kehadiran kopi, alur pikir dan arus informasi sulit dikerucutkan. "aku tak nyari kopi dulu, biar bisa mikir lebih dalam". Setelah keluar ruangan, dapatlah sebuah warung kopi yang menyajikan kopi arabica dari Manado. Sang pahit hitam telah tercecap, pengetahuan dan informasi tentang Iran yg sudah dikumpulkan sejak lama mencoba dimunculkan kembali. Secangkir kopi cukup untuk menajamkan fikir dalam mendaras dan mereproduksi pengetahuan. Awalnya hanya satu outline yg hendak dibuat, akhirnya malah jadi sekian outline yang bisa diteruskan menjadi sebuah makalah utuh. 
Pun dengan beberapa hari ke belakang, saat mencecap Arabica dari Toraja, ide yg ga biasa untuk outline makalah Israel-Palestine Studies tergarap, lengkap dengan sumber referensi yg harus jadi rujukannya.

Hari ini ragam kopi Arabica dari pegunungan Nemangkawi Papua sudah sampai di tangan dan akan menjadi peneman menuntaskan al-Wasith- Syaikh Wahbah az-Zuhaili, satu dari tiga tafsir yg ditulis Syaikh Wahbah dengan penggunaan bahasa pertengahan, tidak berat maupun tidak terlalu ringkas. Semoga bisa menjadi penajam fikir, menajamkan pemahaman terhadap kitabullah, dan mengokohkan iman. 
05 04 2017
@fahmi.basyaiban

0 komentar:

Post a Comment