Thursday, February 25, 2016

(Per) Jodoh (an)


 Menjadi seseorang yang memiliki latarbelakang suku dengan serangkaian system kekeluargaan bagi sebagian orang dipandang sebagai sebuah beban dan bentuk dari keterbelakangan yang perlahan harus diubah dan disesuaikan dengan zaman. Dalam system kekeluargaan atau kesukuan realitas aturan ini sering dijumpai dalam masalah pernikahan, baik aturan sebelum dilakukannya pernikahan maupun aturan saat pernikahan berlangsung. Dalam hal ini saya akan berbagi sedikit tentang system perjodohan yang masih dipertahankan oleh banyak suku dibelahan dunia, dalam hal ini saya lebih spesifik akan bahas di komunitas Arab Hadrami di Indonesia, saya pakai istilah yang juga dipakai Jacobsen yang disebut An Indonesian Orientation group with Arabic signature..

Sebelumnya dalam komunitas Arab Hadrami Indonesia terbagi menjadi dua golongan besar, golongan pertama adalah yang disebut golongan sayyid atau habaib, golongan ini merupakan keturunan dari Imam al-Faqih al-Muqaddam Muhammad ibn Alwi yang nasabnya tersambung ke cucu Rasulullah Husein ibn Ali ibn Abi Thalib radliyallahu anhum, keturunannya disebut Ba’Alawiy atau ‘Alawiyyin. Dalam perjalanannya orang-orang ‘Alawiyyin terbagi menjadi klan-klan kecil yang memiliki nama tersendiri dalam setiap keluarga misal, al-Attas, al-Habsyi, as-Saggaf, dll. Golongan kedua adalah golongan Arab Hadrami non-sayyid, mereka adalah orang Arab asli Hadramaut-Yaman yang tidak memiliki nasab ahlul bait sampai pada Rasulullah saw. Golongan ini juga memiliki marga dengan nama klan masing-masing misal, al-Kathiri, Bawazier, Bakathie, Bassalamah, dll.

Dalam realitas sosialnya hari ini keduanya memiliki kecenderungan system yang sama dalam hal pernikahan. Pernikahan endogamy dengan sesama strata dan dari golongan yang sama menjadi sebuah aturan tidak tertulis dalam komunitas ini yang sudah berlaku sejak beberapa abad yang lalu, dan saat ini masih tetap berlaku setelah kelompok diaspora hadrami berkembang di Indonesia dan tempat lainnya di dunia.

Dari kedua golongan Hadrami tersebut saya termasuk golongan pertama, otomatis saya kena aturan di atas juga. Dalam hal ini, pernikahan endogamy biasanya secara diteknis diatur oleh orang tua yang melakukan semacam system perjodohan antar keluarga yang masih termasuk dalam Bani Alawiy.
Dalam beberapa tahun ke belakang, saya menganggap pernikahan endogamy ini sebagai system kesukuan untuk melindungi sesuatu yang dianggap berharga, dalam hal ini yang dianggap berharga adalah nasab (garis keturunan) yang bersambung hingga cucu Rasulullah. Dalam golonngan arab non-sayyid untuk mempertahankan identitas kesukuan arab mereka. Sampai batas ini saya masih setuju, namun untuk system perjodohan yang berlaku, saya punya pandangan berbeda. Mungkin karena jenjang pendidikan yang ditempuh dan komunitas tempat saya bergaul selama ini mempengaruhi preferensi saya dalam memandang masalah ini. Memilih jodoh itu sebuah hak merdeka dari sebuah yang tidak perlu diatur sedemikian rupa oleh orang tua, karena yang akan menjalaninya bukanlah orang tua.

Preferensi saya dalam memilih pasangan pun akhirnya mengarah para orang yang memiliki pemahaman keagamaan, strata pendidikan, cara pandang dan berpikir, dan visi hidup yang sama. Hal ini diperbolehkan oleh ibu saya dengan memberi catatan “harus tetep Alawiyyin”. Pada kenyataannya mencari pasangan hidup dengan secara mandiri dengan preferensi pribadi dan ditambah syarat dari orang tua tidak semudah yang dipikirkan. Saya tidak sebebas teman-teman saya yang tidak diikat oleh aturan kesukuan yang ketat dalam memilih pasangan hidup.  

Pada akhirnya saya pun menyerah dalam urusan mencari jodoh secara mandiri, dan mengembalikan urusan ini sepenuhnya ke ibu saya, kembali ke system perjodohan yang sudah berlaku beratus tahun lalu. Pandangan saya berubah tentang system perjodohan, saya memiliki keyakinan filter orang tua dalam memilihkan pasangan untuk anaknya adalah filter terbaik, karena tidak mungkin orang tua menghendaki sesuatu yang tidak baik untuk anaknya, apalagi orang tua yang memiliki pemahaman keagamaan yang cukup, meski nanti keputusan akhirnya berada pada pribadi masing-masing.
Hal yang sama ternyata dialami oleh kawan saya sesama Arab Hadrami Indonesia yang akan menikah beberapa bulan lagi. Awalnya dia mencoba mencari dengan preferensi sendiri, namun selalu menemui ketidakcocokan. Pun akhirnya dia kembalikan ke system yang sudah berlaku sekian abad dengan orang tua sebagai pemberi preferensi pertama. Qadarullah sekali ditunjukkan keduanya cocok dan sepakat untuk menikah.

Dalam hal ini saya menyadari bahwa sebenarnya sistem kesukuan yang dibuat sedemikian rupa berates tahun lalu, bukanlah sebuah hal yang dipandang sebelah mata, kuno, terbelakang dan tidak modern. Ada unsur kebaikan yang diperjuangkan melalui sistem tersebut, hanya saja sebagai orang yang hidup di masa sekarang harus melacak dan berpikir sejenak untuk menemukan unsur kebaikan dalam sistem tersebut.

Menikah bukanlah sebuah tujuan dari sebuah perjalanan kehidupan, tetapi merupakan sebuah awal dari sebuah fase kehidupan seorang manusia. Dan Allah akan mempertemukan jodoh antar manusia sesuai dengan visi hidup yang mereka yakini dan kecocokan jiwa yang Allah sudah pertemukan jauh sebelumnya. Maka jangan pernah berburuk sangka sedikitpun terhadap Allah tentang perkara jodoh.

Wa Allahu musta’an

6 comments:

  1. Yaaps, mas. Saya setuju dengan statement:..saya memiliki keyakinan filter orang tua dalam memilihkan pasangan untuk anaknya adalah filter terbaik, karena tidak mungkin orang tua menghendaki sesuatu yang tidak baik untuk anaknya.

    Itu pula yang menjadi pegangan saya ketika memutuskan: ya atau tidak.

    Karena kan ridha orang tua adalah ridha Allah juga.

    ReplyDelete
  2. @lia: kenapa elu jadi curcol di lapak Gueh.. ����

    ReplyDelete
  3. kelihatan rumit, karena belum dipertemukan.
    semoga segera dipertemukan dengan jodoh yang se-visi, sepaham dan sepemikiran.

    ReplyDelete
  4. terus yang nge trip nge trip itu piye mas?

    ReplyDelete
  5. Aga rumit yak hehe.. Smga sgera dipertemukan jodohnya mas :)

    ReplyDelete