• Jadi Navigator

    so kecil apapun kemampuan dan skill yang dipunya tentu itu akan bermanfaat buat orang lain, dan kemanfaatan itu nantinya akan menjadi burhan (bukti) yang akan mengantarkan kita ke surga...

  • Sepotong Senja Pantura

    Ombak laut kami begitu bersahabat, sehingga kami cukup menggunakan perahu kecil nan sederhana untuk mengarunginya untuk sekedar menyambung hidup

  • Sederhana

    sederhana itu cinta kita cinta yang disatukan semesta cinta yang ada sebab Tuhan mengingikannya....

  • Penghulu Istighfar

    اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ,

  • Mengejar matahari

    Selalu saja ada kenikmatan dan rezeki yang diberikan Allah pada hambanya, kita aja yang mungkin sering sombong dengan tidak bersyukur. Rezeki itu bukan cuma hal yang bersifat materi, tapi juga hal-hal yang bersifat abstrak, seperti kesehatan, dan kesempatan melihat keindahan ciptaannya... karena tak semua orang dapat memiliki dan merasakannya

  • Enter Slide 6 Title

    This is slide 6 description.

  • Enter Slide 8 Title

    This is slide 8 description.

  • Enter Slide 9 Title

    This is slide 9 description.

Monday, September 3, 2018

MATRESCENCE [PART I]


Transisi dari seorang wanita yang bisa melakukan banyak hal sebelumnya kemudian memasuki fase motherhood itu tidak mudah bagi banyak wanita. Ini seperti masa transisi dari anak-anak ke fase orang dewasa yang menyebabkan banyak hormon aktif, kulit jadi breakout dengan banyak jerawat, mood swing, dan banyak hal lain yang dialami oleh remaja.
Setelah kelahiran bayinya, banyak perempuan berpikiran mereka akan secara natural bisa mengurus bayinya secara baik, melalukan hal secara smooth tanpa ada drama. Akan tetapi kenyataannya tidak demikian, ketakuatan, rasa kesepian, dan merasa tidak sehat; muncul dan membayangi pikirannya.
Saya berdiskusi dengan salah satu teman yang sudah pernah melewati hal demikian, kemudian mendiskusikan salah satu teman kami yang sedang dalam keadaan ini. Apakah ini normal? Bagaimana menghadapinya dengan lembut tanpa banyak drama?
Akhirnya dia bercerita tentang pengalamannya menghadapi transisi menjadi seorang ibu. Sebagai gambaran dia lahir SC, seminggu setelah SC suaminya dinas ke luar negeri, dia masih berstatus sebagai mahasiswi di perantauan, dua minggu kemudian dia harus UTS di program pasca sarjananya, dan ada masalah dengan hormon dalam tubuhnya sehingga produksi ASI-nya tidak lancar.
Sebelum lanjut ke bagian pengalaman dia, saya juga mencari beberapa sumber yang membahas fenomena motherhood transition. Kemudian ketemulah dengan istilah Matrescence, sama seperti istilah adolscence (transisi fisik dan psikis pada masa remaja). Matrescence secara sederhana bisa diartikan masa transisi fisik dan psikis pada wanita yang menjadi ibu. Secara fisik banyak hormon dalam tubuh yang berubah, yang menjadikan tubuhnya untuk siap menjadi seorang ibu. Secara psikis yang bersangkutan akan mengalami moodswing yang cukup ekstrim, merasa sakit dan tidak mampu, dan mudah bersedih. Secara mudah hal ini terjadi karena ada fenomena "push and pull" dalam dirinya yang merupakan kompensasi dari oksitosin. Oksitosin ini menjadikannya pull the baby sebagai the central of the world, kemudian push (menekan) the other things semisal hobi, aktivitas fisik, aktivitas spritual, aktivitas intelektual, bahkan menekan kemerdekaan fisiknya untuk sekedar pergi ke kamar mandi sendirian dengan merdeka.
Apakah ini sebuah disease? No, Menurut psyciatrist maupun psikolog. Ini hanya sebuah fase yang normal. Yang menjadikannya menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan adalah ketika yang bersangkutan tidak berhasil melewatinya dengan baik. Mental pressure yang hadir pada fase ini perlu dihadapi bersama oleh pasangan yang baru menjadi orang tua. keluarga besar juga memiliki peran yang cukup central dalam mendukung kesehatan mental pasangan melewati fase ini.
Pada kasus teman di atas yang dihadapkan situasi yang tidak ideal: menjadi mahasiswi, suami dinas luar, dan menghadapi ujian tengah semester di depan mata; dia berhasil melewatinya karena ada orang tua dan mertua yang support agar fase ini bisa lewat dengan smooth.
Peran suami dan keluarga besar menjadi sangat penting dalam menghadapi fase ini. Namun, di luar sana banyak orang yang tidak menyadari bahwa fase ini harus dikawal sebagai upaya menjaga kesehatan mental ibu baru. Pada keadaan masih dalam moodswing dan usaha menerima keadaan "normal" baru, banyak ibu baru yang tidak berani speak up tentang masalah yang sedang dihadapinya. Di sisi lain, banyak bapak muda yang menjadi ayah baru juga bingung dalam bagaimana cara mendampingi istrinya melewati fase ini dengan baik. Biasanya karena keadaan ayah muda ini sebagai pekerja perantau dengan waktu kerja padat dan jauh dari keluarga, sehingga waktu mendampingi istrinya juga terbatas. Ditambah jika komunikasi yang terjalin antara pasangan yang cenderung baru ini tidak berjalan dengan baik, fase ini menjadi lebih banyak dihindari untuk dibicarakan.
Pada keadaan demikian, salah seorang teman yang berhasil melewati fase ini menceritakan setidaknya dengan dua cara agar melewati semuanya dengan lembut. Pertama, "mengungsikan" istrinya ke tempat orang tua agar fase transisi ini terlewati dengan baik. Lingkungan rumah menjadikan ibu muda tetap nyaman, pada beberapa hal teknis pengasuhan bayi ibu muda terbantu dengan kehadiran orang tua karena mereka memiliki pengalaman handling baby lebih banyak. Lingkungan ini menjadikan ibu muda yang mengalami fase matrescence lebih mudah untuk normalize keadaan barunya.
Kedua, meminta bantuan orang lain di rumah tanpa harus pulang kampung. Biasanya dengan meminta bantuan orang tua untuk tinggal di tanah rantau sampai batas waktu yang dianggap bahwa ibu muda tersebut sudah mampu dan selesai menerima keadaan barunya. Pilihan lain dengan meminta bantuan nanny.
Setiap transisi menuju sesuatu yang baru memang membutuhkan banyak energi agar bisa normalize keadaan dan menjadi lebih kuat di masa depan. Mari bantu orang-orang terdekat kita menjadi orang yang kuat secara mental dan menghadirkan generasi kuat untuk negeri ini.
Untuk para ibu-ibu muda, jangan ragu untuk menyuarakan keadaan diri. Menyampaikan keadaan diri bahwa sedang "tidak baik baik" saja bukanlah hal buruk yang harus dihindari. Ceritakan pada orang yang tepat tentang "keadaan tidak baik baik saja"nya, jika membutuhkan bantuan ahli datanglah ke psikolog, mereka well-trained dan berotoritas untuk membantu.
Tabik,

Semarang, 02 09 2018
@fahmi.basyaiban
Sumber gambar: cattime.com

Friday, July 27, 2018

PERTANYAAN "KAPAN" [PART 3]


Setelah lepas dari pertanyaan kapan menikah, bukan berarti lepas dari rentetan pertanyaan berikutnya. Pasangan yang sudah menikah pun beberapa waktu kemudian akan menjadi sasaran pertanyaan "kapan" berikutnya. "Sudah menikah setahun lebih, kapan punya anaknya?" Pertanyaan yang tampak wajar dan biasa saja bagi mayarakat kita di Indonesia, kadang dijadikan pertanyaan basa basi maupun pertanyaan yang bertujuan baik, tanpa ada maksud jelek sedikitpun. Namun dari yang teranggap biasa itu, cobalah untuk membuka pandangan dari perspektif yang berbeda dan banyak mendengar agar pertanyaan yang diniatkan baik itu menjadi tidak menjadi hal yang menyakitkan bagi yang ditanya.

Salah satu pasangan yang merupakan sahabat saya pernah bercerita bahwa hampir setiap bulan istrinya menangis sesaat setelah melihat test-pack. Garis yang diharapkan tidak muncul yang menandakan ia tak kunjung hamil meski telah menikah dalam hitungan lebih dari satu tahun. Sebagai seorang wanita, yang bersangkutan merasa belum sempurna jika belum menjadi seorang ibu. Perasaan insecure hadir karena yang bersangkutan lebih dari sekedar dikatakan sehat dan subur secara medis, namun yang diharapkan tak juga datang. Beruntung dia memiliki suami dan keluarga yang support dan menguatkan sehingga kesehatan mentalnya terjaga. Hingga ditahun kedua pernikahannya, doanya terkabul dengan hadirnya buah hati.

Lain cerita dengan sahabat saya yang lain, sebut saja dengan Astria. Dia sudah menikah lebih dari dua tahun. Tekanan dari keluarga dengan pertanyaan kapan punya anak terus berdatangan, beberapa sampai pada pemberian stempel sebagai wanita mandul. Suatu hari vonis dokter itu datang dengan bahasa yang tidak mengenakkan bagi kesehatan mentalnya, "Bagaimana bisa terbuahi? Kalau telurnya tidak pernah matang". Pernyataan dokter itu mengguncang dan menekan keseimbangan emosi dan jiwanya, tentu hal ini tidak baik untuk kesehatan mental. Stress, menangis, mengucilkan diri, dan perasaan kosong melingkupi dirinya dalam beberapa waktu. Beruntung dia memiliki pasangan yang bisa menguatkan, "lebih dan kurang yang ada pada dirimu adalah konsekuensi aku menerimamu sebagai istri. Setidaknya kita masih bisa berikhtiar dengan ikhtiar maksimal dari pada menyerah dan murung diri". Tapi dukungan suaminya saja tidak cukup, karena beberapa orang diinternal keluarganya malah melakukan hal sebaliknya. Emak emak lambe turah itu ada di mana mana, jenderal !!

Cerita ketiga sebutlah Hamidah, setelah sekian tahun berikhtiar agar memiliki momongan, hari kelahiran yang ditunggu datang. Perasaan mengharu biru datang karena perasaan menjadi wanita seutuhnya terwujud. Kelahiran yang ditandai tangisan bayi mengharubirukan dirinya dan keluarganya. Rasa syukur pada Pemilik langit dan bumi tak terhenti mengalir dari lisan siapa saja yang hadir. 
Lima menit kemudian semuanya berubah, bayi yang mendatangan kebahagiaan sesaat itu meninggal dunia. Ya, hanya lima menit kebahagian berubah menjadi tangis pilu dan sunyi senyap keadaan. Ujian itu membawa dia ke titik terendah harapan dan kebahagiaan dari titik normalnya. Ia mengurung diri lebih dari sebulan tidak menemui siapapun dan mau ditemui siapapun kecuali beberapa orang saja. Butuh lebih dari satu tahun untuk membuat dirinya merasa lebih baik dan bisa beraktivitas seperti sebelumnya. Pertanyaan "kapan punya anak" yang kadang hadir dari orang yang tidak mengetahui peristiwa yang pernah dialaminya, selalu membuat hatinya panas dan tak jarang membuatnya menangis.
Tiga cerita di atas hanyalah contoh kecil di balik dari orang-orang yang mungkin sering ditanya "kapan punya anaknya". Bisa saja orang yang punya kisah hidup demikian banyak berada di sekitar kita, bisa saudara, tetangga, atau rekan dekat. Orang-orang demikian membutuhkan lebih dari sekedar pertanyaan kapan, mereka lebih membutuhkan lingkungan yang menguatkan agar mereka bisa kuat dengan ujian tersebut. 
Lingkungan yang mendukung kesehatan mental itu telihat sepele, namun sejatinya menyelamatkan jiwa secara tidak langsung. Dalam kondisi emosi dan mental yang sedang tidak stabil, tidak sedikit orang yang diberi ujian demikian berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Janganlah jadi bagian orang-orang yang melemahkan. Mari selamatkan jiwa orang-orang terdekat dengan hal yang sederhana: berempati dan menahan diri dari penyataan dan pertanyaan yang menyakiti orang lain secara langsung maupun tidak langsung.
Semoga Allah kuatkan orang orang yang sedang diuji, dan jadikan bahagia sebagai ujung ujiannya.

Tabik, 
Semarang, 16 07 2018
@fahmi.basyaiban

PERTANYAAN "KAPAN" [Part 2]


"Kamu kan sudah lebih dari siap untuk menikah. Nunggu apa lagi? Mau sampai kapan?" Pertanyaan demikian atau yang semisalnya sering datang pada lajang yang dianggap sudah lebih dari sekedar siap untuk menikah. Mereka setidaknya sudah melewati kriteria untuk disebut siap dan layak. Tapi mengapa tak kunjung berpasangan? Ditambah rekan sejawat mereka semasa menempuh pendidikan sudah memiliki momongan yang lebih dari satu.

Orang-orang dengan deskripsi di atas adalah orang yang paling sering menjadi sasaran pertanyaan "kapan". Dari pertanyaan yang halus sampai pertanyaan yang menyindir itu mengalir tak tertahankan pada mereka. 
Apa sebenarnya yang membuat mereka tak kunjung "menggenap" padahal secara kasat mata, mereka layak dan siap untuk sudah melangkah?

Berikut beberapa hal yang saya temui yang mungkin bisa sedikit memberi persepsi bahwa mereka yang memilih tak kunjung menggenap memiliki alasan yang sebaiknya kita arifi dan hargai secara proporsional. Boleh jadi karena tak mengetahui informasi secara utuh, akhirnya lahirkan penghakiman yang tak adil.

Pertama, Sebutlah April (nama orang), usia 20an sudah menyiapkan pernikahannya yang akan digelar sebulan lagi. Undangan telah disebar, gedung telah dipesan, katering sudah siap, dan berkas pernikahannya masuk ke kantor KUA. Hari akad tinggal dua minggu lagi, hari yang semula menjadi hari pemantapan persiapan akad, berubah menjadi hari pembatalan semua persiapan yang telah diupayakan. Rencana pernikahan dibatalkan karena ada sesuatu hal yang mengharuskan semuanya batal. Butuh lebih dari satu tahun bagi April untuk bisa "move on" dan lepas dari stressor yang menekannya. Belum lagi rasa malu yang ditanggung tidak hanya dirinya namun juga keluarganya dari pembatalan itu.

Kedua, sebutlah Kamilia, usia dua puluhan, bekerja di salah satu perusahaan swasta ibu kota setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri. Dua tahun terakhir meniatkan diri menjalin hubungan serius menuju pernikahan dengan teman dekatnya. Dua keluarga sudah bertemu, persiapan sudah dilakukan, dan sudah ada kesepakatan lisan. Semuanya berhenti, beberapa bulan kemudian teman dekatnya menikah dengan orang lain. Bagi perempuan, menghadapi kenyataan demikian tidaklah mudah. Terhempas keras dari harapan yang sudah dibangun. 

Ketiga, sebutlah Priska, anak rantau dari Sumatera, bekerja di ibu kota. Meniatkan diri untuk menikah sejak empat tahun lalu, namun urung dilaksanakan karena orang tuanya tiba-tiba terkena stroke cukup berat. Orangtuanya hanya bisa terbaring di tempat tidur, syaraf menelannya mengalami masalah sehingga harus dipasang sonde untuk pemberian makan. Rencana pernikahannya ditunda karena sebagian besar tabungan dan gajinya untuk biaya perawatan dan pengobatan orang tuanya.
Tiga kisah di atas hanyalah sebagian kecil sebab yang mungkin menjadi alasan kenapa teman dan rekan kita tak kunjung menikah. Ketiganya mungkin teranggap biasa dan terlalu melankolis bagi sebagian orang, tapi tiga kisah di atas itu merupakan ujian kesehatan mental dan jiwa yang tidak semua orang punya resilience terhadapnya. Ketiga orang ini dalam kehidupan sehari-harinya terlihat biasa biasa saja, namun butuh dari sekedar sabar dan kuat untuk begitu. 
Bagi yang tidak sanggup, stress dan gangguan lainnya bisa hadir dan memperburuk kualitas hidup, produktivitas, dan juga memperburuk kualitas interaksi sosial dengan lingkungannya. Boleh jadi pertanyaan "kapan" bisa memicu stress jika disampaikan tidak dengan hati hati. Dan yang demikian jumlahnya tidak sedikit.
Bagi mereka yang masih melajang, bukan berarti mereka tidak mampu dan tidak mau menikah.. bisa jadi mereka sedang banyak mengalami ujian yang mungkin tidak semua orang sanggup menghadapinya dengan tetap terlihat baik-baik saja. Maka mendahulukan empati pada lajang lebih arif dibanding bertanya pertanyaan "kapan".


Tabik, 
Semarang, 01 07 2018
@fahmi.basyaiban
___
Sumber Gambar: cattime.com

PERTANYAAN "KAPAN" [Part 1]


"Kapan nikahnya?"
"Udah ada calonnya?"
" Lulus sudah, kerja sudah, tabungan sudah.. kurang apa lagi?"
" متي زاوج؟" "Calon Muzawij ini.." Pertanyaan serupa bukanlah mitos di hari raya, melainkan sebuah keniscayaan yang diarahkan pada lajang yang dipandang sudah cukup siap secara dzahir. Beberapa orang bisa dengan mudah menjawabnya dengan candaan, tapi tak sedikit pula yang memendam perasaan kesal karena pertanyaan sama berulang setiap tahun.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk membenarkan bahwa melajang itu lebih baik daripada menikah, namun hanya ingin sedikit memberi pandangan, perlu kehati-hatian sebelum melontarkan pertanyaan pertanyaan tersebut karena bisa jadi, tekanan sosial seperti itu menjadikan orang mengambil keputusan buru-buru menikah hanya agar terbebas dari "serangan" pertanyaan "kapan?". Sedangkan pernikahan yang demikian memiliki resiko bubar di tengah jalan yang begitu besar. Bubarnya sebuah institusi pernikahan itu melahirkan sesuatu yang punya implikasi sosial yang tidak semua orang kuat dengan status janda atau duda di umur yg terbilang muda.

Sebutlah Sussana (bukan nama sebenarnya), salah satu sahabat saya, umurnya kurang dari 30 tahun. Butuh waktu recovery lebiy dari satu tahun untuk menguatkan diri dengan status barunya sebagai janda beranak satu karena rumah tangganya tidak bisa dipertahankan. Berat? Iya, banget.. circlenya yang dulu bertanya "kapan?" mendadak diam dan tak sedikitpun punya keberanian untuk sekedar menyapa dan bertanya kabar. Ia harus mengambil peran menjadi ayah dan ibu dalam satu kali waktu, butuh dari sekedar sabar dan kuat hati untuk menghadapinya.. Sebut lagi Talia, seorang muslimah yang aktif dalam sebuah jamaah dakwah. Diperantarai pengurus jamaahnya untuk segera menikah, prosesnya terlalu dicepat-cepatkan bermodal tsiqoh penuh dengan jamaahnya. Proses meminta restu hanya sebatas formalitas, karena orang tua secara tidak langsung dipaksa agar segera memberi restu. Firasat tidak baik muncul dari hati orang tuanya, namun semua ditepis karena sudah kadung ada rombongan keluarga pria yang datang ke rumah untuk nembung


Pernikahan berlangsung, namun tak lebih dari dua bulan, Talia berubah status dari istri seseorang menjadi janda dengan umur perkawinan seumur jagung. Ada ketidakjujuran dari perantara perihal pengantin pria yang menjadikan perceraian tidak terhindarkan. Pernikahannya bubar, ujian lebih berat selanjutnya datang; setelah selesai bercerai ternyata dia sudah hamil karena telah bercampur dengan suaminya. Masa kehamilan harus dilalui saat dia sudah berstatus janda. 
Lalu apa kabar orang yang bertanya "kapan?". Entahlah, mereka tidak kunjung datang hanya untuk menegur sapa atau sekedar memberi empati karena sebelumnya ada campur tangan mereka hingga ujian itu hadir pada dirinya.
Berat? Berat buanget.. entah berapa liter air mata yang keluar; dari dirinya, ibunya, neneknya, dan keluarganya meratapi nasib pernikahannya karena keputusan yang "dicepat-cepatkan". Tidak semua orang memiliki kondisi yang sama satu sama lain soal kesiapan menikah. Ada yang sudah mencoba mengikhtiarkan berkali-kali, namun Allah belum takdirkan. Pun ada yang dapat bertemu jodoh dengan proses yang singkat, cepat, dan membahagiakan. 
Jodoh itu urusan yang misterius, harus ada campur tangan Penguasa Pemilik Jiwa manusia untuk saling mencocokkan hati antara wanita, laki-laki, dan kedua keluarganya secara bersamaan. Menjaga keberhakan prosesnya bisa dimulai dengan hal sederhana; kehati-hatian bertanya "kapan".


Tabik, 
Semarang 28 06 2018
@fahmi.basyaiban
___
Ket. Gambar: 3D Anamorphic Illusion - TutoDraw

AROMA KARSA

"Asmara, tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya" Mari bahas novel yang seperti di gambar. Saya beli dua minggu yang lalu ketika mampir ke toko buku. Novel ini cukup tebal: 696 halaman, tapi dengan bahasa yang ringan dan cerita yang menarik itu hanya butuh beberapa kali duduk saja semuanya bisa habis dibaca.

Awal baca novel ini, saya baca bagian halaman terima kasihnya. Dari halaman terimakasih ini, kelihatan bahwa mb @DeeLestari menulis novel ini didahului dengan sebuah riset yang ga pendek. Sesuatu yang luar biasa karena yang bersangkutan harus sampai belajar beneran tentang fragrances biar bisa menggambarkan dalam bentuk tertulis secara tepat dan terukur. Dan itu semua berakhir dengan tulisan yang berkualitas... Nice job mb Dee.. Novel ini membahas banyak tentang aroma, sesuatu yang jarang diangkat oleh penulis lain di indonesia. Kebanyakan penulis lebih mudah menulis dan mendeskripsikan sesuatu yang bersifat visual, kalau tentang aroma itu akan membutuhkan pendekatan yang berbeda. Di sinilah mb Dee Lestari menunjukkan kelasnya sebagai penulis.

Novel ini becerita tentang Jati Wesi yang tinggal di dekat TPA Bantar Gebang, dia mempunyai kemampuan membaui setiap aroma dengan tepat dengan sensitivitas yang luar biasa, bahkan bisa membaui aroma atsiri dari tumbuhan yang menguat sesaat sebelum hujan atau badai akan datang. Dengan kemampuannya ini dia bekerja di sebuah toko parfum di kawasan bantar gebang, serta melakukan 3 pekerjaan lain di waktu yang berbeda. Dia bisa membuat aroma parfum mahal hanya berdasarkan aroma yang dia hirup, kemudian memformulasikannya ulang, menduplikasinya ulang dengan bibit parfum yang dia miliki secara tepat. #aromakarsa

Hal yang menarik dimulai ketika dia terlibat dalam sebuah proyek ambisius dari Raras Prayagung -pemilik Kemara, perusahaan kosmetik paling besar di Indonesia-untuk mencari sebuah bunga legendaris: Puspa Karsa yang memiliki kekuatan bisa mengendalikan kehendak orang lain. Project pencarian ini tidak main main, yang terlibat ada arkeolog, ahli tanaman, tentara, dan tentu saja Jati yang bisa melacak bunga yang tidak bisa dibaui oleh hidung orang biasa. Project pencarian Puspa Karsa ini mengantarkannya pada sesuatu hal yang ingin diketahuinya, tentang latar belakang hidupnya dan dari mana dia berasal. 
Cerita makin berkembang dengan konflik antara Jati dan Suma, anak wanita pemilik Kemara. Tapi konflik ini berakhir dengan keduanya saling menyukai satu sama lain. Tapi ceritanya ga senorak FTV Indonesia, alur cerita yang dibuat elegan, mature, dan ga picisan. "Asmara, tidak bisa dipahami, cuma bisa dirasakan akibatnya" kalimat ini menggambarkan sisi drama dalam novel ini.

Bagian akhir novel ini ditutup dengan sesuatu hal yang mengungkapkan masa lalu dan latar belakang Raras Prayagung, Tanaya Suma, Jati Wesi, dan Ekspedisi pencarian Puspa Karsa. Sesuatu yang berhubungan satu sama lain, behubungan dengan sesuatu yang metafisik, dan legenda yang sedikit saja tertulis dalam catatan sejarah.

Secara keseluruhan novel ini bagus, mirip dengan novelet Madre yang berhasil menghadirkan cara pandang baru dan pengetahuan tentang sesuatu yang tidak bisa dilihat orang tentang seni dalam dunia bakery. Dalam Aroma Karsa, yang hadir adalah sisi dunia aroma, dunia peracik parfum, bagaimana aroma bisa mempengaruhi emosi seseorang, serta kompleksnya ilmu tentang fragrances seperti musik.

Direkomendasikan untuk jadi bacaan ringan nan "receh" di tengah penat kerja atau bacaan berat yang tiap hari datang.

Semarang, 20052018

@fahmi.basyaiban

MESRA BERSAMA BUKU


"Setiap bulannya menamatkan berapa judul buku?" Sebuah pertanyaan wajib yang harus diutarakan pecinta buku ketika hendak mengambil seseorang untuk jadi pasangannya. Karena kalapnya belanja buku yang mentandaskan isi dompet itu hanya bisa dipahami oleh sesama pecinta buku yang sering mengalami hal serupa. Pecinta buku itu sudah sampai derajat ma'rifat mana kala dia tak lagi mempersoalkan bentuk buku. Entah itu buku fisik maupun buku elektronik, karena dia faham hakikat buku dan bagaimana bermesra dengan buku.

Selamat hari buku internasional. Hindari pikiran cupet dan sumbu pendek dengan mengkhatamkan buku secara rutin. Semoga bahagia dan mesra dengan buku.

PENIKMAT BUKU



 "Mi, aku ga tahu tepatnya tanggal ulang tahunmu. Aku tahunya dirimu ulang tahun bulan ini. Ini hadiahnya ya. Segelnya aku buka, aku kejarkan tandatangan sama penulisnya kebetulan minggu kemarin aku ada kelas sama beliau"

Buku "Pertarungan dalam berdemokrasi" itu aku terima lengkap dengan tanda tangan penulisnya pak Hamdan Basyar. Yang memberikannya adalah teman dekat sejak kuliah di UGM, dia sedang memasuki semester akhir di program magister Kajian Timur Tengah dan Islam UI. 

Kami sama-sama penikmat buku, bedanya dia dulu penikmat baca buku genre fiksi. Tapi dengan posisinya sekarang sebagai mahasiswi KTTI, buku bacaannya bergeser ke tema yang sedikit "berat". Kehidupan sebagai mahasiswi pasca sarjana, istri, dan ibu sedang dia jalankan secara parelel. Berat? Iya... Sebagai gambaran saat sedang hamil, dia tiap hari naik KRL setiap hari dengan jalur Bintaro-Salemba-Depok. Bahkan ketika usia kehamilannya sudah masuk bulan kedelapan menuju sembilan, rute perjalanan itu masih dilaluinya, kuliah jalan, hamil iya, dan tugas sebagai istri juga jalan. Seminggu paska kelahiran cesar anaknya, dia tetap masuk untuk ujian. Saya hanya bisa bengong pas dapat cerita itu. 
Semester ini dia sedang berjuang kembali menyelesaikan tesisnya. Tema tesis yang berawal dari diskusi pembuatan artikel tugas kuliah beberapa waktu lalu. "Mi, kasih aku ide untuk tugas kuliah ini" "Nyoh...Temanya... Nyoh sumber bukunya.... Nyoh pakai teori ini.. Nyoh..nyoh.. "😂 *pakai gaya bu Dendy
"Wah ini bisa jadi tesis.." Tema tesis yang diangkat adalah tentang Tunisia, tepatnya tentang stabilitas Tunisia pasca Arab Spring. Tentang peran Ghannouchi yang bisa mengkompromikan militer, islamist, dan sekuler; sehingga negara ini bisa tetap menjalankan demokrasinya dengan tenang. Tidak seperti Mesir paska Arab Spring: Ikhwanul Muslimin gagal berkomunikasi dan menemukan titik tengah dengan militer yang berakibat presiden sipilnya dikudeta.

Jadi saya anggap buku pemberian ini sebagai barter buku-buku tentang tunisia yang dia minta beberapa waktu lalu. Terima kasih atas bukunya Bunda Bilgi, Ayah Bilgi, dan Bilgi. Tetaplah jadi keluarga tangguh yang bisa melewati apa yang sulit menurut orang lain. Semoga terus menginspirasi dan berkah dalam semua aktivitas.. 

Semarang 21042018
@fahmi.basyaiban

MENDUATUJUH


Club 27, sebuah mitos yang berulang terjadi pada beberapa selebriti dunia dari berbagai negara. Mereka yang masuk klub ini adalah artis-artis yang mati atau mengakhiri hidupnya di umur 27. Jadi apa sebenarnya yang membuat angka 27 ini dimitoskan menjadi sesuatu yang sedikit menyeramkan?

Umur 27 kalau menurut saya itu adalah umur ujian seseorang bisa berhasil atau tidak melewati life quarter crisis di umur 25. Bagi mereka yang tak kunjung berhasil melewatinya, umur 27 menjadi batas akhirnya dia akan bertahan atau menjadi pecundang. Setiap orang pasti punya cerita masing masing tentang life quarter crisisnya, masa di mana titik temu antara impian, angan-angan, dan rencana hidup; bertemu dengan realitas bahwa semuanya tidak semudah yang dibayangkan dan direncanakan. Orang yang sudah selesai kuliah dan mulai bekerja di bidangnya mulai menemukan tatanan realitas hidupnya sebagai pekerja bahwa survive dalam profesinya ternyata tidak mudah. Serangkaian penanda sosial sebagai orang dewasa mulai disematkan. Di umur ini orang sudah terlalu malu untuk minta uang saku pada orang tua. Di umur ini tekanan sosial sebagai manusia dewasa mulai bermunculan: karir, pernikahan, harta, dan status sosial.

Dua tahun lalu saya melewati life quarter crisis dengan posisi yang tidak begitu baik. Saya mengambil pilihan untuk pulang ke rumah, memulai dengan tabungan mendekati nol, meninggalkan pekerjaan, meninggalkan jejaring yang selama ini terbentuk di kota, dan mencoba memulai hidup dari awal kembali dengan pulang ke desa. Berat? Tentu saja.. Bukan berat secara fisik, tapi berat dalam berfikir dan merenung... "Habis ini gue mau ngapain? Jatah hidup gue beberapa tahun ke depan mau gue apain? ..."

Krisis yang hampir mirip pernah saya dapati saat umur 17 tahun, awal semester dua jadi mahasiswa itu Abah meninggal dunia. Selanjutnya terasa gelap dan berat. Masalah-masalah yang biasanya diselesaikan Abah, mau ga mau saya yang selesaikan. Kemudian dihadapkan pada dua pilihan "berhenti kuliah atau lanjut kuliah? Dengan ketidakpastian darimana biaya kuliah bisa didapatkan". Alhamdulillah masa itu terlewati dengan bisa menyelesaikan kuliah sampai diwisuda 4 tahun setelahnya. Pengalaman ini menjadi modal penting untuk melewati life after crisis yang datang di umur 25,

Perjalanan melewati life quarter crisis, saya awali dengan operasi mengambil plate yang sudah satu tahun terpasang di tulang klavikula. Setidaknya sambil recovery saya bisa deep thinking dan ada alasan kenapa gue "nganggur". Apa yang dilakukan? Saya banyak baca dan mempelajari hal-hal paling mendasar dalam hidup. Apa tujuan hidup kita di dunia? Apa yang menjadi ultimate goal? Lalu bagaiamana tahapan menuju ke sana? Dengan cara apa? Dengan apa mengukur berhasil atau tidaknya?

Memperbaiki hubungan baik dengan Allah tuhan semesta alam dan mengakrabi kitab suci menjadi titik balik yang melegakan. Dua bulan recovery paska operasi itu terlewati, bekas luka operasi telah kering, dan crisis seperempat umur itu lewat juga. Saya menata hidup kembali untuk bisa lebih terukur dan terus merapal doa agar hasilnya selalu baik menurut ukuran Allah dan semuanya Dia ridhai.

Dua tahun berlalu, keadaan menjadi lebih baik dan menyenangkan. Alhamdulillah saya tidak masuk ke club 27 yang gagal melewati life quarter crisis dengan mengakhiri hidup. Allah masih memberikan kemudahan yang begitu banyak, menjadikan yang sebelumnya tidak mungkin menjadi mungkin. Saya menemukan jalan karir baru, menemukan saluran belajar baru, menemukan jejaring baru, dan yang paling penting adalah saya menemukan jawaban tentang tujuan hidup yang lebih kuat dari sebelumnya. Kesemuanya itu menghadirkan kesyukuran dan kesabaran dalam menempuh proses menuju ultimate goal sebagai manusia.

Selanjutnya ada apa di 27? Semoga Allah berkahi umur, karuniakan semangat belajar untuk bisa mempelajari hal-hal baru, mengeksplorasinya, dan menemukan hikmah pada ilmu untuk memberi kebermanfaatan.

27th, 91-18.. Semarang, 20/04/18
@fahmi.basyaiban

SIAPKAH JADI ORANG TUA?


"Mas, njenengan itu kan masih belum berkeluarga. Kok sudah bicara panjang soal peran pengasuhan. Pun sudah nulis tentang hal serupa" tanya seorang ibu-ibu dalam sebuah diskusi dadakan di salah satu tempat di Semarang. "Saya hanya sedang belajar dan menyiapkan diri untuk jadi orang tua yang baik di masa depan, bu" jawab saya pendek.

Awal tahun 2011 secara tidak sengaja saya bertemu dengan bu Elly Risman di salah satu acara talkshow di studio televisi swasta nasional. Dalam kesempatan itu bu Elly memaparkan data yang bikin saya pening kepala dan tercengang perihal perilaku remaja di kota-kota besar di Indonesia. Satu poin utama yang disampaikan dalam talkshow tersebut adalah "pasangan muda Indonesia hari ini tidak pernah belajar dan mempersiapkan dirinya menjadi orang tua. Mereka hanya mengandalkan pengalaman pengasuhan masa lalunya saat kecil. Padahal waktu, keadaan, dan zamannya sudah berbeda". Pada titik itulah meniatkan diri untuk belajar banyak hal berkaitan dengan menjadi orang tua, hak dan kewajibannya, visi pendidikan anak, pengasuhan, dan beberapa hal yang masih terkait dengannya.

Lalu apa yang saya dapatkan setelah sekian tahun? Yang saya dapati hanyalah semakin merasa bodoh.. "ya ampun gue masih remahan rempeyek" #haha

Awal bulan oktober 2017, saya ditawari oleh mentor menulis saya ketika di Jogja untuk menyumbang tulisan di buku yang sedang dibidaninya. Tulisan yang semula saya bagi di sosial media diminta untuk dikembangkan dan dihubungkaitkan dengan peran ayah dalam keluarga. Tulisan itupun akhirnya jadi dan dibukukan dengan tulisan tulisan dari beberapa penulis lain yang punya perhatian dalam tema seputar keluarga dan pengasuhan seperti pak Cahyadi Takariawan dan mas Salim A Fillah. Buku tersebut diberi judul "Ayah di Madrasah Keluarga", diterbitkan oleh Rumah Keluarga Indonesia Yogyakarta.

Beberapa kawan memberi tanggapan setelah membaca buku ini secara keseluruhan.
"Bukunya bagus, mi. Jadi pengingat, jadi orang tua emang harus disiapin"
"Bukunya muter di kantor gue... Pada minjem bergilir.." Pada titik ini saya bertanya pada diri sendiri, sudah siapkah menjadi orang tua? Sudah disiapkankah visi pembentukan keluarga, goalnya, caranya, bagaimana mencapainya, bagaimana mengukurnya, dan bagaimana agar semuanya berjalan lancar? 
Kegagalan dalam ujian sekolah bisa diperbaiki dengan mengulang, tapi gagal dalam berumah tangga dan gagal mendidik generasi itu irreversible. Semoga Allah berkahi keluarga keluarga yang terus belajar dan berusaha hadirkan generasi terbaik dalam rumahnya.

Terima kasih untuk pak Yusuf Maulana atas kesempatannya untuk terlibat menjadi bagian dari buku ini. Jazakallah khair.

@fahmi.basyaiban
Semarang, 230318

SEMANGAT FILANTROPI


Dalam sebuah pagi di hari Jumat pada sebuah prosesi pemberangkatan jenazah ke kubur, pak Kyai memberikan pesan untuk menegaskan bahwa jenazah yang akan dikebumikan adalah ahlul khair.
"Selama masih hidup, almarhum adalah orang yang berkhidmat pada terwujudnya masjid yang kita jadikan shalat setiap hari. Berkat perjuangannya masjid kita menjadi besar dan bisa seperti sekarang. Aa huwa min ahlil khair?"
"Khair..." Serentak jamaah yang memenuhi pelataran masjid menjawab pertanyaan dari pak Kyai.

Itulah sepenggal kejadian dari sekian banyak kejadian yang terekam kuat dalam ingatan, mayit yang diantar tersebut adalah Abah -Sayyid Salim bin Achmad Basyaiban- 24 Safar 1430 atau 20 Februari sembilan tahun lalu. Ada banyak hal yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh abah dalam masa pengasuhan dari kecil hingga abah meninggal. Dari sekian banyak hal yang bisa saya contoh, bagian tersulit untuk diikuti adalah semangat membantu orang tanpa mengharap balasan serta semangat filantropi dalam membangun sesuatu untuk masyarakat tanpa dibayar.

Abah sudah menjadi ketua pembangunan masjid sejak awal periode sembilan puluhan saat masjid di desa kami masih sangat sederhana. Sebuah ide besar diluncurkan, masjid akan dibangun ulang secara total dengan desain baru dua lantai dengan struktur beton yang kokoh. PR berikutnya adalah dari mana dana pembangunan masjid berasal? Sebagian besar penduduk yang menjadi jamaah masjid adalah petani dengan penghasilan pas-pasan. Gagasan itu tetap disetujui dengan batasan waktu kapan akan selesainya masjid yang lama. Hal yang penting adalah bagaimana gagasan itu menjadi mimpi bersama masyarakat dan bisa diwujudkan bersama dengan sumber daya yang ada. ***

Selalu ada jalan untuk sebuah kebaikan.

Mimpi membangun masjid yang megah sudah disebarkan, gambar bakal jadi apa masjid sudah ada. Ditempel di papan pengumuman masjid agar jamaah punya gambaran yang sama dengan pengurus. Dengan kondisi masyarakat yang kebanyakan petani dan buruh, sangat mustahil jika pembangunan masjid hanya mengandalkan infaq jamaah. Meski mereka tidak bisa memberi uang tunai untuk menyumbang pembangunan, ada hal mereka rela berikan ke masjid berupa waktu dan tenaga. Abah melihat peluang ini sebagai sumberdaya besar yang bisa memberikan kebermanfaatan dan pembangunan masjid, masyarakat tidak bisa memberi uang tapi meraka siap tenaga untuk dikaryakan.

Dengan jejaring yang dimiliki abah, banyak proyek dari dinas maupun swasta akhirnya di dapat. Dengan kesepakatan semua hasil pengerjaan proyek adalah untuk masjid. Proyek yang dikerjakan itu semisal proyek pembersihan rumput jalan dari dinas pekerjaan umum sekian kilo meter. Dengan dikerjakan keroyokan oleh jamaah masjid, proyek dinas ini bisa selesai dalam dua hari. Proyek selesai kas masjid terisi, jamaah senang karena menjadi bagian dari pembangunan masjid, social bonding antar jamaah pun juga tebentuk. Dari beberapa kali proyek ini, akhirnya kas pembangunan masjid jadi cukup untuk membangun tahap demi tahap hingga semua bangunan utama masjid jadi, termasuk kubah besar di atas masjid.

Dari hal ini saya sering bertanya-tanya, bukankah itu proyek dari jejaring pribadi Abah? Nilainya pun pasti tidak kecil? Jika mempekerjakan orang untuk jadi proyek pribadi pun tetap akan ada untung secara pribadi. Tapi itu semua tidak dilakukan Abah, semuanya dilakukan enteng saja untuk masjid sebagai bagian dari amanahnya memimpin pembangunan masjid. Dari hal tersebut, sesuatu yang telihat tidak mungkin menjadi mungkin dan akhirnya menjadi nyata.

Semangat probono dan filantropi ini sudah saya coba teladani dalam beberapa kesempatan. Untuk kegiatan atau bidang charity itu agak mudah dilakukan, tapi untuk bidang atau hal di "tempat basah" itu masih butuh perjuangan melawan ego mencari keuntungan pribadi. Maka menjadi filantropist tanpa pamrih itu perkara mudah diucap namun butuh perjuangan untuk mencapainya. Ini bukan tentang seberapa besar materi yang dapat diambil, tapi tentang visi kebermanfaatan yang harus diwujudkan dalam bentuk nyata.

Semoga segala sesuatu yang sudah diusahakan Abah menjadi amal dan pahala yang mengantarkannya pada ridha Allah swt yang berbuah jannah. Dan semoga bisa meneladani kebaikan-kebaikannya. Aamiin.. 

Semarang, 20022018
@fahmi.basyaiban

USAHA PERSATUAN


Dua buku hasil kurasi untuk sambungkan dan lanjutkan gagasan tokoh besar Indonesia itu sampai di tangan saya dua bulan terakhir. Buku pertama adalah kumpulan tulisan dan pemikiran Hoesin Bafagieh, rekan Abdurrahman Baswedan saat dirikan dan hidupkan Persatuan Arab Indonesia yang kemudian berubah nama Menjadi Partai Arab Indonesia. Buku kedua adalah kumpulan tulisan Buya HAMKA yang dihimpun dari tulisan beliau yang tersebar di beberapa media dalam kurun 1954-1964.

Dua buku ini memiliki hubungan satu sama lain, karena HAMKA dan Hosein Bafagieh sama-sama membenarkan ide ide pembaharuan yang dibawa oleh Sayyid Jamaluddin al-Afgani, Syaikh Muhammad Abduh, dan Sayyid Muhammad Rasyid Ridha. Pun ada tulisan HAMKA yang secara khusus membahas tentang dinamika komunitas Muwallad Arab Hadrami Indonesia. Tentang sejarah pecahnya komunitas Arab Indonesia menjadi dua kutub yang berseberangan itu menjadi hal yang tidak terhindarkan antara Jam’iyyah al-Irsyad al-Arabiyah (menghimpun sebagian besar keturunan Arab dari strata Masyaikh) dan Rabitah ‘Alawiyah (menghimpun sebagian besar keturunan Arab dari strata Sayyid/‘Alawiy). Belum lagi masalah komunitas Arab ini masih memiliki problem identitas jinsiyah sebagai Hadrami (Menganggap diri berkewarganegaraan Hadrami-Yamani), hidup eksklusif, menganggap diri lebih unggul dibanding yang lain, debat panjang berkutat pada masalah khilafiyah furu’iyah yang menghabiskan energi besar, dan hal lainnya yang menyebabkan dua kelompok ini tak bisa ishlah satu sama lain.

Sampai kemudian hadirlah komunitas kecil pemuda peranakan Arab antara lain: AR Baswedan, Hoesin Bafagieh, dan lainnya; mencoba ijtihad baru untuk membangunkan Jamaah Arab Indonesia untuk membuka lembar baru dan menyerukan persatuan Arab Indonesia dengan sumpah pemuda Arab Indonesia. Sumpah ini menegaskan soal Jinsiyah jamaah Arab yang tinggal di Indonesia adalah Orang Indonesia dan bertanah air Indonesia, tidak boleh ada lagi klaim bahwa “nahnu Hadramiyyun”, serta menegaskan bahwa komunitas Arab Indonesia harus memenuhi kewajiban terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kemunculan Persatuan Arab Indonesia ini diapresiasi oleh Hamka sebagai upaya menyudahi konflik panjang dan terwariskan di antara Masyaikh dan Alawy oleh generasi tua di masing-masing kelompok. 

AR Baswedan yang besar di Jam'iyah al-Irsyad dan Hoesin Bafagieh yang besar di lingkungan Rabithah Alawiyah adalah dua contoh nyata bahwa perselisihan bisa ditutup, konflik warisan bisa ditepikan, perbedaan bisa dibicarakan dengan tetap selain menghargai satu zama lain, serta bisa bersatu dalam banyak hal yang bisa disepakati bersama. Hoesin Bafagieh dengan pena tulisannya yang tajam menyampaikan kritik internal pada komunitas Arab untuk membangunkannya, menyerukan persatuan, dan mengajak komunitas Arab untuk turun gelanggang dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia. 

Dalam perjalanannya menyebarkan dan membesarkan PAI, tentu tidak otomatis disetujui dan didukung oleh semua jamaah Arab di Indonesia. Penolakan dan perlawanan pada ide persatuan Arab Indonesia juga bermunculan, PAI harus berhadapan dengan golongan tua. 
Sama seperti Hoesin Bafagieh, HAMKA melakukan hal yang sama sebagai pengusung "pembaharuan". Meski sampaikan kritik terhadap ta'ashshub dan taqlid buta, tidak serta merta jadikan dirinya sebagai tukang vonis. HAMKA serukan panggilan bersatu sembari usahakan upaya obati penyakit ummat.

Buah pikir dua tokoh di atas telah lama terserak dan tersebar di media cetak lawas tanpa ada yang mengumpulkan, padahal buah pikir keduanya masih sangat relevan sampai hari ini. Terima kasih pada Nabiel A. Karim Hayaze atas usahanya mengkurasi dan mengumpulkan buah pikir Hoesin Bafagieh. Terima kasih juga pada pak Yusuf Maulana yang sudah mengumpulkan, mengkurasi, dan membahasakan ulang tulisan HAMKA hingga lebih mudah untuk dipahami. 
Pada Jamaah Arab Indonesia yang kembali terjebak pada konflik lama antara Masyaikh dan Sayyid, kiranya perlu membaca buah pikir Hosein Bafagieh agar bisa tengok kembali bahwa persatuan jamaah Arab Indonesia itu pernah ada dan bisa diusahakan kembali. 
Pada pembawa ide pembaharu Islam dan penganut Islam tradisional, kiranya bisa baca kembali karya HAMKA bahwa banyak titik temu dan banyak hal yang bisa disepakati bersama untuk wujudkan persatuan. 

Tabik, 
Semarang, 11 01 2018
@fahmi.basyaiban

Friday, January 26, 2018

KHAT DAN IMLA'


  • Awal belajar bahasa Arab dahulu, ada satu mata kuliah wajib yang harus diambil semua mahasiswa. Mata kuliah itu berjudul "khat", inti dari mata kuliah ini adalah bagaimana menulis huruf Arab dengan baik dan benar. "aduh ngapain ada mata kuliah begini, mbalik kayak anak-anak saja".. Di akhir kuliah saya dapat nilai C. #haha 
    Perkara menulis huruf Arab itu sepertinya sepele, tapi sesuatu yang dianggap sepele ini malah jadi penting. Semua huruf Arab itu ada kaidah penulisannya. Ada kelompok huruf yang ditulis di atas garis batas, ada pula yang harus ditulis di bawah garis, ada pula huruf yang sebagian ditulis dibagian atas garis batas sebagian lainnya ditulis dibawah garis batas. Contoh paling mudah adalah membedakan antara penulisan huruf lam dan huruf kaf. Jika kedua huruf ini ditulis dan disejajarkan, dan tidak terlihat perbedaannya selain lebar dan tidaknya, maka penulisannya masih salah. 
    Paduan antara kecakapan menulis serta memahami ilmu sharf dan nahwu itu adalah awal menguasai ilmu alat ini. Dan namanya ilmu alat akan digunakan untuk membuka ilmu-ilmu lain bepengantar bahasa Arab. 
    Selain kecakapan menulis, ada kecakapan lainnya yang diperlukan untuk lolos dari mata kuliah ini. Apa? Imla', kemampuan konversi ucapan dalam bahasa Arab kedalam tulisan secara benar dan tepat. Tanpa kemampuan ini jaminan mutu akan kesulitan menyelesaikan mata kuliah lain yang semakin kompleks. Misal sang guru mengimla'kan kata al-Fahsya', kemudian murid menulisnya dengan الفحش, maka tulisan tersebut salah. Karena yang dimaksudkan guru adalah الفحشاء. 
    Kemampuan Imla' ini berhubungan dengan penguasaan kosa kata, kemampuan mendengarkan, menganalisis kalimat yang terucap, mengasosiasikan dengan konteks pembicaraan dan penulisan secara bersamaan. Kemampuan ini harus dimiliki seorang pembelajar dengan mengulanginya berulang ulang agar terlatih. Inilah kemampuan yang dimiliki Zaid ibn Tsabit sehingga dia diangkat sebagai sekretaris nabi untuk menuliskan wahyu.
  • Pun dalam sejarah perkembangan ilmu dalam peradaban Islam, banyak ulama yang mengimla'kan gagasannya, kemudian sang murid menuliskannya menjadi sebuah kitab yang akhirnya sampai pada kita hari ini. Misalnya kitab ar-Risalah-nya Imam Syafi'i, Imam Syafi'i mengimla'kan pada muridnya langsung. 

  • PENULISAN SHALAT
    Dulu guru kami - Ustadz Humam Abu Bakr- pernah mengingatkan cara penulisan kata Shalat, ada dua cara menuliskannya. Yang pertama ditulis صلاة, sedangkan yang kedua ditulis صلٰوة. Tapi tidak pernah kami diajari dengan penulisan صلة. 

  • Terima kasih untuk "ustadzah" televisi swasta, anda telah mengingatkan kembali pelajaran yang pernah diajarkan guru-guru kami dalam khat dan imla'. Terima kasih untuk guru-guru kami yang pernah dengan sabar mengajarkan pentingnya belajar dari dasar. Memberitahu kami bahwa dalam mencari ilmu dan menyampaikan ilmu itu harus dengan persiapan dan kemampuan, terutama kemampuan mengukur diri dan sikap. 
    Tabik, 
    05122017

MASJID GURU TUA

Dari dua perjalanan dua minggu ke Indonesia Timur bulan lalu, dari sekian masjid di beberapa kota, di masjid ini yang paling nyaman dan menautkan hati. 


Bangunannya tidak terlalu besar, namun nyaman dan hangat. Hangat karena orang-orang di dalamnya ramah bukan karena megahnya gedung. Di sini seperti bertemu saudara jauh, hanya dengan menyebutkan nama dan fam sudah cukup jadi password untuk dianggap saudara, hingga diajak mampir ke rumah, disuguhi kudapan lezat, dan ketika mau pulang "nanti kalau ente pulang, titip salam untuk abah dan ajus". Ces.. Adem, perjalanan sendirian menjadi tidak membosankan karena dipertemukan saudara saudara baru. 

Inilah akhlak jamaah Arab Palu yang hangat dan memuliakan tamu. Selain keramahan, sepertinya saya harus banyak belajar ukhuwah sesama jamaah di Palu. Perbedaan pandangan furu'iyyah disikapi dengan arif di sini sejak dulu. Inilah salah satu jejak kebaikan Guru Tua yang tidak terlihat namun bisa dirasakan. 

Tiada yang menyangka dari masjid kecil dan madrasah kecil yang dibangun Guru Tua Sayyid Idrus ibn Salim (SIS) al-Jufri ini akan membesar menjadi lembaga pendidikan terbesar di Indonesia Timur yang memiliki ribuan madrasah yang tersebar dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, hingga Maluku. Hingga dari jasanya ini, beliau diangkat menjadi pahlawan bidang pendidikan dari Palu. Jalan utama dan bandara di Palu tersemat namanya: SIS al-Jufri atau Guru Tua. 

أن الله يعلي درجاته في الجنة وينفعنا به وبعلومه وأسراره في الدين و الدنيا والآخرة. 
@fahmi.basyaiban
191117

SEJATINYA MU'MIN

Yang membedakan mu'min dengan selainnya adalah sikap ia terhadap segala sesuatu. Jika diuji dengan kelebihan, ia akan menjadi hamba yg terus bersyukur; dan itu baik untuknya. Pun ketika diuji dengan kekurangan dia akan tegar dan bersabar (menerimanya sebagai takdir dari Allah, dan mengusahakan yang terbaik) ; dan itu baik untuknya. Dan pokok dari membangun itu semua: Husnu adh-dhan Billahi Rabbi al-'Alamin. 
071117
@fahmi.basyaiban

JAUH CITRA DARI REPUTASI

Kasus DH menyeruak publik Indonesia, citra sebagai seorang peneliti moncer Indonesia di negeri kincir angin itu terbuka perlahan dengan gegap gempita di social media, hingga akhirnya yang bersangkutan tidak punya pilihan lain selain mengakui bahwa api jauh daripada panggang, jauh citra daripada reputasi. Publik pun dari ilmuwan dalam negeri, ilmuwan diaspora, pelajar Indonesia, hingga netizen ramai memperbincangkannya dengan sindiran, tak jarang juga dengan umpatan.
Dari kejadian ini, ada lintasan pikiran di benak bahwa kejadian semacam ini bukan hal yang asing di sekitar lingkungan yang pernah saya tinggali, baik ketika sekolah, merantau, kuliah, maupun di lingkungan kerja. Kasus DH ini hanya salah satu riak yang muncul dari sekian kasus serupa yang sering saya dan mungkin kita semua jumpai. Bahwa masyarakat kita yang suka dengan pujian dan hebat dengan cara mengaku telah "bla bla bla" atau menumpang nama terhadap lembaga, komunitas, atau entitas tertentu; merupakan hal yang ada di sekitar kita hanya saja kurang disadari. Sekalinya terbuka kedok pencitraannya, kita baru tersadar.
Pada beberapa perjalanan hidup di beberapa tempat dan komunitas, saya sering secara tidak sengaja mendapati hal yang "too good to be true" dan secara bersamaan saya dapatkan kenyataan di balik layar tentang hal yang direkayasa untuk pencitraan diri dan pujian bak selebriti. Atau setidaknya sandangan citranya terlalu besar terhadap kapasitas dan reputasi yang bersangkutan. 
***

Label Ustadz tak beriring dengan ilmu yang cukup
Beberapa tahun lalu ada tamparan keras bagi penyandang "ustadz televisi". Dalam sebuah acara yang disiarkan langsung itu sang ustadz mengutip kalimat "makanlah sebelum kamu lapar, dan berhentilah sebelum kamu kenyang". Kalimat ini populer dan seringkali dinisbahkan pada Rasulullah saw. Nasib apes bagi sang ustadz, mengutip kalimat tersebut didepan salah satu pakar hadits Indonesia Prof.Dr. KH. Ali Musthafa Yaqub _Allahu yarham_. Pak Kyai menegur sang ustadz artist itu dengan sangat keras, "ini hadits nabi?" tanya beliau. Sang ustadz menyiyakan, pak Kyai mengulangi pertanyaan yang sama dan sang ustadz masih menyiyakan. "bohong, ini bukan hadits nabi", kemudian pak Kyai menjelaskan bahwa kalimat ini adalah perkataan Tabib Sudan yang ditanya kenapa dia sehat dan jarang sakit. Betapa tidak enaknya menjadi sang ustadz mendapat teguran sekeras itu di depan jamaah dan saat siaran langsung. Tentu kita paham dan tau konsekuensi berbohong atas nama nabi, terlebih sang "ustadz" mencitrakan diri sebagai orang berilmu dan didengar nasihatnya. Kejadian itu berakhir dengan hilangnya sang ustadz saat jeda komersial sudah selesai.
Lain lagi kesempatan ada kompetisi Da'i televisi swasta, salah satu peserta yang juga sering dipanggil "ustadz" membawakan materi tentang Rasulullah Muhammad saw dengan mengutip buku Michael Hart tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang menempatkan Rasulullah saw pada peringkat pertama. Di saat sesi tanya jawab oleh Juri, dia ditanya "apa yang membuat Michael Hart menempatkan Rasulullah Muhammad saw pada posisi pertama?". Jawaban peserta dai itu tidak tuntas dan mencerminkan dia tidak selesai membaca buku yang dia kutip, sampai sang juri harus meluruskan. Di sesi yang lain, saat membawakan materi politik Islam dan mengutip M. Natsir; juri bertanya tentang buku pak M. Natsir yang dia kutip. Tak dinyana, si peserta tak pernah menyentuh gagasan Natsir yang terkumpul di Capita Selecta-nya. Sang peserta Dai ini hanya membaca kumpulan tulisan beberapa tokoh masyarakat tentang Natsir dalam rangka 100 tahun pak Natsir. 
***

Start-up Sociopreuner yang fenomenal
Lain lagi dengan pencitraan kasus di atas, ada juga kasus yang tidak mengemuka ke publik namun "pencitraan berlebih" pada sebuah start up business ini entah bagaimana caranya info tidak sedapnya sampai ke saya dengan lengkap dari beberapa orang yang pernah beririsan dengan pemilik start up tersebut. Perlu digarisbawahi start up yang ini sudah mendapatkan banyak penghargaan di manapun bahkan sampai dari luar negeri.
Dia memanfaatkan masyarakat yang dibina dan diberdayakan LSM lain untuk syuting liputan TV Swasta untuk diaku sebagai keberhasilannya. Anda kaget? Sang pemilik start up ini entah bagaimana tega mengklaim kegiatan komunitas lain demi syuting pencitraannya pada publik. Tidak cukup sampai di situ, kegiatan dari start up yang digadang-gadangnya itu, saat saya tanya relawan yg pernah ikut pada kegiatan start up tersebut jawaban menarik muncul "dah ga aktif kegiatan di sana, mi. Itu cuma ada kegiatan kalau ada kunjungan, liputan, atau syuting saja. Selebihnya ya pasif dan bisa dibilang ga ada apa apa".
Apapun yang namanya usaha business pasti ada marketing mix yang menjamin usaha tersebut berjalan baik atau tidak. Ada revenue yg dikejar untuk menutupi operasional dan keuntungan yang diperoleh agar start up business itu tetap eksis dan membesar. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi? Wong kegiatannya saja pasif bahkan hampir tidak ada.
Di satu sisi sang owner lebih menikmati "selebritas" dengan diundang mengisi acara "lalala Muda di berbagai kota (lalala adalah judul yang biasa dipakai di seminar misal Inspirator muda, motivator muda, dan hal yg sejenis). Dalam setiap sessi-nya dia selalu menampilkan pencapaian dan penghargaan yang sudah dia terima dari start up sociopreneur ala ala yang dibuatnya. Perlahan dia mulai ditinggalkan oleh kawan-kawan yang pernah satu tim dengannya karena sang owner lebih menikmati dunia "selebritas" yang diciptakannya ketimbang mengurusi dan membesarkan start up-nya yang digadang-gadang itu.
Sampai hari ini dia masih selamat dan bisa menutupi hal yang too good to be true tersebut, tapi sesuai dengan hukum alam yang berlaku sesuatu hal yang dibangun secara bathil akan rusak dan terbongkar pada masanya. Ketika kasus DH terjadi, salah satu pegiat komunitas yang pernah dimanfaatkannya berujar "saya mengapresiasi keberanian DH mengakui kebohongannya. Menurut saya ini lebih baik dibandingkan 'orang' yang mendapat penghargaan dari banyak pihak namun kebaikan yang diapresiasi itu hanya sebatas saat syuting dilakukan". 
***

Delusi Selebritas dan Dunia Simulacra
Contoh pertama perihal teguran pak Kyai di depan umum dan contoh Da'i yang tak menguasai materi itu memberi pelajaran tentang sebuah proses panjang sebelum menyandang penyematan gelar "ustadz". Modal pintar berbicara di depan umum, kamera face, dan busana muslim kekinian saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang layak dipanggil "ustadz". Jika diri menikmati panggilan "ustadz", menikmati selebritas, dan enggan mengoreksi seberapa besar kapasitas diri; maka kejadian di atas akan terus berulang pada pelaku yang lain. Kapasitas asli dari pelaku akan terbuka seiring berjalannya waktu.
Contoh kedua tentang kebohongan start up business berprestasi hanyalah sebagian kecil dari banyak kasus delusi selebritas, karena yang bersangkutan merasa kalau dirinya memiliki banyak penggemar, lalu dia bertingkah seperti selebriti, mengglorifikasi pencapaian yang sudah dilakukannya agar dia bisa diakui sebagai orang hebat dan berpengaruh.
Jangan buru-buru menvonis, mungkin saya dan anda juga mengalami delusi selebritas dan hidup dalam dunia simulacra dengan cara masing-masing. Misal, karena ingin dibilang hebat sebagai peneliti akhirnya menyematkan gelar peneliti lembaga lalala pada berbagai kesempatan. Padahal lembaga penelitiannya saja entah ada atau tidak, jika lembaganya ada; pertanyaan berikutnya hadir "penelitian apa yang sudah dilakukan sejak bergaung dengan lembaga itu". Beberapa waktu yang lalu ada orang yang kemana-mana mengklaim diri sebagai "Peneliti Lembaga blabla" diberi kesempatan dalam sebuah kanal video sebuah lembaga untuk menyampaikan materi tentang kritik filsafat Yunani, alih-alih menyampaikan materi berbobot ilmiah, yang ada hanya menunjukkan kapasitas asli peneliti yang tidak menguasai materi dan banyak prejudicenya.
Jadi, bagi saya, anda, dan kita semuanya mari coba lihat ke diri sendiri. Jangan jangan kita sendiri hidup dalam delusi selebritas dan dunia simulacra yang sudah lama terbangun seperti mengklaim sebagai anak tokoh, peneliti dunia, lalala mendunia, lalala muda, lalala tangguh, lalala super, dan sematan lainnya.
Mungkin kalimat dari Sayidina Ali ibn Abi Thalib ini bisa jadi renungan, 
ليس الفتى من يقول هذا أبي ولكن الفتى من يقول ها أنا ذا. 
_Tidaklah Pemuda (sejati) itu yang mengatakan inilah bapakku (dan sematan lainnya), tetapi pemuda (sejati) itulah yang mengatakan inilah diriku (yang asli dengan kapasitas dan tanpa sematan yang tak perlu)_

Kejujuran akan kapasitas diri dan kesabaran pada proses menuju satu titik kesuksesan yang diimpikan memang tidak mudah, dia perlu diperjuangkan dengan kerja keras dan dikelola dengan mengukur diri dengan bijak. Jika kejujuran diabaikan dan kemampuan mengukur diri hilang, kerja keras yang sudah dilalui dalam waktu yang panjang akan berakhir dengan hancurnya bangunan kebaikan yg telah diusahakan.
"Tidak mudah menemukan jalan kesuksesan, teruslah bekerja dengan sukacita, jagalah semangat, dan berjuanglah sampai akhir" -Gonshiro Kubota-
Tabik,
Palu-Semarang 09102017
@fahmi.basyaiban

*Ilustrasi photo dari miniature model artist Michael Paul Smith

WAKTU JANJIAN

Setelah berpartner dengan orang Jepang dalam setahun ini dan hidup dalam sistem jejepangan delapan jam setiap hari, dalam management waktu di luar maupun di dalam pekerjaan semuanya jadi ngikut: datang sebelum waktu yang dijanjikan.

Soal janji jadi tersetel otomatis 20 menit jam yg dijanjikan harus sudah sampai. Jika terjadi sesuatu di jalan semisal ada ban bocor, buffer time 20 menit itu bisa dipakai tanpa ada kejadian datang terlambat. Selama melakukan hal ini, dua kali mengalami masalah pada motor dan macet panjang menuju kantor; berakhir dengan sampai dengan selamat tanpa terlambat. 
Pada kehidupan di luar pekerjaan hal yang sama juga terjadi, tapi kadang berakhir dengan kekesalan pribadi. "gue lupa lagi ga janjian sama orang kantor atau orang yg terjejepangan".. Janjian jam 9 sudah datang dua puluh menit sebelumnya, yg diajak ketemuan masih entah ngapain.. Kan KZL.. #haha.. Kemarin pun terjadi hal yg mirip. Rencana sudah disusun, jam sudah disepakati, tapi episode telat selalu terjadi. Satu orang datang tepat waktu, satu orang terlambat, satu orang ditinggal karena tertidur dan lupa pasang alarm.. #lemparpalu

So? Jadi orang yang tepat waktu itu baik, tapi lihat-lihatlah siapa yang diajak janjian, karena klo pakai standar ketinggian akan berakhir dengan kekesalan.. #bwahaha 
29 08 17
@fahmi.basyaiban

JEMBATAN RASA


    • Al-Mawaddah fil Qurba, Sayidina Ali ibn Abi Thalib menjelaskannya sebagai “ittashilu baini wa bainikum”, padanan kata dalam bahasa Indonesia yang mendekati makna ini adalah “Jembatan Rasa”. Lalu bagaimana jembatan rasa ini terbangun? Pada siapa seharusnya terhubung?

      Air mata Nabi Muhammad yang semula terbendung akhirnya mengalir deras di pipinya, Ibrahim anak lelaki terakhirnya akhirnya meninggal dunia di usia yang masih sangat belia, 16 bulan di atas pangkuannya. Ibrahim menyusul anak laki-laki nabi terdahulu Qasim dan Abdullah yang juga meninggal pada usia yang belia
      . 
      Nabi berkata kepada Ibrahim yang sudah tak bernyawa dengan suara perlahan:
      "Hai Ibrahim, jika ini bukan perintah yang benar dan janji yang betul, dan sesungguhnya kami yang kemudian akan menyusul orang yang mendahului kami, niscaya dukacita kami terhadap kematian engkau lebih dari ini"

      Nabi terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya. "Air mata yang berlinang dan hati yang berduka cita ini tidak berkata melainkan apa yang diridhai Rabb kami. sungguh kami sangat berduka cita sebab berpisah denganmu, Ya Ibrahim"

      karena kedukaan dan tangis Nabi terlihat oleh sebagian sahabat nabi yang hadir, sebagian dari mereka bertanya pada Nabi, "Duhai Nabi, mengapa engkau menangis, bukankah engkau pernah melarang kami menangisi orang mati?" mendengar perkataan beberapa sahabat, Nabi menjawab:
      "aku tidak melarang berduka cita, tetapi yang pernah kularang itu hanya mengangkat suara dengan menangis. apa yang kau lihat padaku adalah bekas apa yang terkandung di dalam hati dari rasa cinta dan sayang. Barang siapa yang tidak menampakkan kasih sayangnya, maka orang lain tidak akan menampakkan kasih sayang kepadanya"

      Jembatan rasa yang terbangun antara Ayah dan anak adalah bagian dari fitrah, ketika keduanya berpisah, ada rindu pada sebuah pertemuan. Perpisahan dengan kematian pun tak meruntuhkan jembatan rasa antara keduanya. 
    • ***
    • Tsauban Maula salah satu dari pembantu nabi, hari ini kita mengenalnya sebagai perawi yang meriwayatkan beberapa hadis shahih. Suatu hari Tsauban tampak murung dan bersedih. Wajahnya murung membayangkan tentang masa depannya. Rasulullah mendekat dan bertanya, “kenapa Tsauban?”. Tsauban menjawab, “Jika engkau wafat nanti, duhai nabi. engkau akan diangkat ke surga oleh yg Mahatinggi kemudian engkau akan dikumpulkan dengan setiap para Nabi. sementara aku, hanya pembantu sederhanamu. mungkinkah kita bertemu lagi?”. Tsauban dan Nabi masih sama-sama di dunia, namun dia rindukan pada kelangenggan menjaga jembatan rasa, terjaga sampai keduanya bertemu kembali di Jannah. Tsauban pun termasuk yang mendapatkan doa dari orang yang menjadi ujung yang lain dari jembatan rasa yang dibuatnya agar kelak di Jannah bertemu dan berkumpul bersama Nabi. 
    • ***
    Tubuh dingin dan ketakutan tercetak jelas pada wajah nabi pada awal turunnya wahyu, sesaat setelah Sayyidah Khadijah menyelimutinya, Nabi sedikit tenang dan berujar,

    “sungguh aku takut tentang hal yang akan terjadi pada diriku”
    “Tidak, sekali lagi tidak, demi Allah, Allah tidak akan akan menghinakan engkau selamanya, karena engkau penyambung silaturahim, membantu yang memerlukan, meringankan orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong untuk kebenaran” Jawaban Sayyidah Khadijah menenangkan.

    Dua puluh satu tahun kemudian, delapan tahun setelah Nabi meninggalkan Makkah untuk hijrah ke madinah, sepuluh tahun setelah Khadijah wafat. Nabi dan ummat islam membuka kota Makkah. Setelah Fathul Makkah, Nabi pergi ke suatu tempat, sahabat yang melihat bertanya "Hendak kemana engkau Ya Rasulullah? “
    " Membangun tenda di Hujun"

    Taukah apa itu Hujun? Hujun adalah tempat dimakamkannya Sayyidah Khadijah. "shadaqti ya Khadijah | engkau benar Khadijah" 
    Kenapa Nabi berucap demikian? Hari itu Allah membuktikan ucapan tegar dari Khadijah yang menguatkan suaminya dua puluh satu tahun berlalu bahwa Allah tidak akan menghinakannya. Hari ini satu Makkah berislam dan tiada yang hinakan nabi seperti yang ditakutkan saat pertama kali wahyu turun. Nabi benarkan perkataan Khadijah. 
    Jembatan Rasa macam apa yang terbangun antara Khadijah dan Nabi saw? Jembatan rasa yang tetap kokoh meski keadaan yang tak mengenakan terus berjalan. 
    Jembatan Rasa macam apa yang terbangun antara Khadijah dan nabi saw? Jembatan rasa yang masih kokoh meski keduanya telah berpisah dunia. 
    Jika sudah benar pada siapa jembatan rasa itu dibangun, maka membongkarnya kembali bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia akan terawat dan melewati batas zaman dan waktu. Sebuah Jembatan yang dibangun dengan keimanan yang menguatkan fitrah yang abadi, tak berakhir, dan tak bertepi.. Maka bahagilah mereka yang membangun jembatan rasa yang berujung pada puncak kebahagiaan abadi hingga Jannah. 

060717
@fahmi.basyaiban