Friday, January 26, 2018

JAUH CITRA DARI REPUTASI


Kasus DH menyeruak publik Indonesia, citra sebagai seorang peneliti moncer Indonesia di negeri kincir angin itu terbuka perlahan dengan gegap gempita di social media, hingga akhirnya yang bersangkutan tidak punya pilihan lain selain mengakui bahwa api jauh daripada panggang, jauh citra daripada reputasi. Publik pun dari ilmuwan dalam negeri, ilmuwan diaspora, pelajar Indonesia, hingga netizen ramai memperbincangkannya dengan sindiran, tak jarang juga dengan umpatan.
Dari kejadian ini, ada lintasan pikiran di benak bahwa kejadian semacam ini bukan hal yang asing di sekitar lingkungan yang pernah saya tinggali, baik ketika sekolah, merantau, kuliah, maupun di lingkungan kerja. Kasus DH ini hanya salah satu riak yang muncul dari sekian kasus serupa yang sering saya dan mungkin kita semua jumpai. Bahwa masyarakat kita yang suka dengan pujian dan hebat dengan cara mengaku telah "bla bla bla" atau menumpang nama terhadap lembaga, komunitas, atau entitas tertentu; merupakan hal yang ada di sekitar kita hanya saja kurang disadari. Sekalinya terbuka kedok pencitraannya, kita baru tersadar.
Pada beberapa perjalanan hidup di beberapa tempat dan komunitas, saya sering secara tidak sengaja mendapati hal yang "too good to be true" dan secara bersamaan saya dapatkan kenyataan di balik layar tentang hal yang direkayasa untuk pencitraan diri dan pujian bak selebriti. Atau setidaknya sandangan citranya terlalu besar terhadap kapasitas dan reputasi yang bersangkutan. 
***

Label Ustadz tak beriring dengan ilmu yang cukup
Beberapa tahun lalu ada tamparan keras bagi penyandang "ustadz televisi". Dalam sebuah acara yang disiarkan langsung itu sang ustadz mengutip kalimat "makanlah sebelum kamu lapar, dan berhentilah sebelum kamu kenyang". Kalimat ini populer dan seringkali dinisbahkan pada Rasulullah saw. Nasib apes bagi sang ustadz, mengutip kalimat tersebut didepan salah satu pakar hadits Indonesia Prof.Dr. KH. Ali Musthafa Yaqub _Allahu yarham_. Pak Kyai menegur sang ustadz artist itu dengan sangat keras, "ini hadits nabi?" tanya beliau. Sang ustadz menyiyakan, pak Kyai mengulangi pertanyaan yang sama dan sang ustadz masih menyiyakan. "bohong, ini bukan hadits nabi", kemudian pak Kyai menjelaskan bahwa kalimat ini adalah perkataan Tabib Sudan yang ditanya kenapa dia sehat dan jarang sakit. Betapa tidak enaknya menjadi sang ustadz mendapat teguran sekeras itu di depan jamaah dan saat siaran langsung. Tentu kita paham dan tau konsekuensi berbohong atas nama nabi, terlebih sang "ustadz" mencitrakan diri sebagai orang berilmu dan didengar nasihatnya. Kejadian itu berakhir dengan hilangnya sang ustadz saat jeda komersial sudah selesai.
Lain lagi kesempatan ada kompetisi Da'i televisi swasta, salah satu peserta yang juga sering dipanggil "ustadz" membawakan materi tentang Rasulullah Muhammad saw dengan mengutip buku Michael Hart tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang menempatkan Rasulullah saw pada peringkat pertama. Di saat sesi tanya jawab oleh Juri, dia ditanya "apa yang membuat Michael Hart menempatkan Rasulullah Muhammad saw pada posisi pertama?". Jawaban peserta dai itu tidak tuntas dan mencerminkan dia tidak selesai membaca buku yang dia kutip, sampai sang juri harus meluruskan. Di sesi yang lain, saat membawakan materi politik Islam dan mengutip M. Natsir; juri bertanya tentang buku pak M. Natsir yang dia kutip. Tak dinyana, si peserta tak pernah menyentuh gagasan Natsir yang terkumpul di Capita Selecta-nya. Sang peserta Dai ini hanya membaca kumpulan tulisan beberapa tokoh masyarakat tentang Natsir dalam rangka 100 tahun pak Natsir. 
***

Start-up Sociopreuner yang fenomenal
Lain lagi dengan pencitraan kasus di atas, ada juga kasus yang tidak mengemuka ke publik namun "pencitraan berlebih" pada sebuah start up business ini entah bagaimana caranya info tidak sedapnya sampai ke saya dengan lengkap dari beberapa orang yang pernah beririsan dengan pemilik start up tersebut. Perlu digarisbawahi start up yang ini sudah mendapatkan banyak penghargaan di manapun bahkan sampai dari luar negeri.
Dia memanfaatkan masyarakat yang dibina dan diberdayakan LSM lain untuk syuting liputan TV Swasta untuk diaku sebagai keberhasilannya. Anda kaget? Sang pemilik start up ini entah bagaimana tega mengklaim kegiatan komunitas lain demi syuting pencitraannya pada publik. Tidak cukup sampai di situ, kegiatan dari start up yang digadang-gadangnya itu, saat saya tanya relawan yg pernah ikut pada kegiatan start up tersebut jawaban menarik muncul "dah ga aktif kegiatan di sana, mi. Itu cuma ada kegiatan kalau ada kunjungan, liputan, atau syuting saja. Selebihnya ya pasif dan bisa dibilang ga ada apa apa".
Apapun yang namanya usaha business pasti ada marketing mix yang menjamin usaha tersebut berjalan baik atau tidak. Ada revenue yg dikejar untuk menutupi operasional dan keuntungan yang diperoleh agar start up business itu tetap eksis dan membesar. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi? Wong kegiatannya saja pasif bahkan hampir tidak ada.
Di satu sisi sang owner lebih menikmati "selebritas" dengan diundang mengisi acara "lalala Muda di berbagai kota (lalala adalah judul yang biasa dipakai di seminar misal Inspirator muda, motivator muda, dan hal yg sejenis). Dalam setiap sessi-nya dia selalu menampilkan pencapaian dan penghargaan yang sudah dia terima dari start up sociopreneur ala ala yang dibuatnya. Perlahan dia mulai ditinggalkan oleh kawan-kawan yang pernah satu tim dengannya karena sang owner lebih menikmati dunia "selebritas" yang diciptakannya ketimbang mengurusi dan membesarkan start up-nya yang digadang-gadang itu.
Sampai hari ini dia masih selamat dan bisa menutupi hal yang too good to be true tersebut, tapi sesuai dengan hukum alam yang berlaku sesuatu hal yang dibangun secara bathil akan rusak dan terbongkar pada masanya. Ketika kasus DH terjadi, salah satu pegiat komunitas yang pernah dimanfaatkannya berujar "saya mengapresiasi keberanian DH mengakui kebohongannya. Menurut saya ini lebih baik dibandingkan 'orang' yang mendapat penghargaan dari banyak pihak namun kebaikan yang diapresiasi itu hanya sebatas saat syuting dilakukan". 
***

Delusi Selebritas dan Dunia Simulacra
Contoh pertama perihal teguran pak Kyai di depan umum dan contoh Da'i yang tak menguasai materi itu memberi pelajaran tentang sebuah proses panjang sebelum menyandang penyematan gelar "ustadz". Modal pintar berbicara di depan umum, kamera face, dan busana muslim kekinian saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang layak dipanggil "ustadz". Jika diri menikmati panggilan "ustadz", menikmati selebritas, dan enggan mengoreksi seberapa besar kapasitas diri; maka kejadian di atas akan terus berulang pada pelaku yang lain. Kapasitas asli dari pelaku akan terbuka seiring berjalannya waktu.
Contoh kedua tentang kebohongan start up business berprestasi hanyalah sebagian kecil dari banyak kasus delusi selebritas, karena yang bersangkutan merasa kalau dirinya memiliki banyak penggemar, lalu dia bertingkah seperti selebriti, mengglorifikasi pencapaian yang sudah dilakukannya agar dia bisa diakui sebagai orang hebat dan berpengaruh.
Jangan buru-buru menvonis, mungkin saya dan anda juga mengalami delusi selebritas dan hidup dalam dunia simulacra dengan cara masing-masing. Misal, karena ingin dibilang hebat sebagai peneliti akhirnya menyematkan gelar peneliti lembaga lalala pada berbagai kesempatan. Padahal lembaga penelitiannya saja entah ada atau tidak, jika lembaganya ada; pertanyaan berikutnya hadir "penelitian apa yang sudah dilakukan sejak bergaung dengan lembaga itu". Beberapa waktu yang lalu ada orang yang kemana-mana mengklaim diri sebagai "Peneliti Lembaga blabla" diberi kesempatan dalam sebuah kanal video sebuah lembaga untuk menyampaikan materi tentang kritik filsafat Yunani, alih-alih menyampaikan materi berbobot ilmiah, yang ada hanya menunjukkan kapasitas asli peneliti yang tidak menguasai materi dan banyak prejudicenya.
Jadi, bagi saya, anda, dan kita semuanya mari coba lihat ke diri sendiri. Jangan jangan kita sendiri hidup dalam delusi selebritas dan dunia simulacra yang sudah lama terbangun seperti mengklaim sebagai anak tokoh, peneliti dunia, lalala mendunia, lalala muda, lalala tangguh, lalala super, dan sematan lainnya.
Mungkin kalimat dari Sayidina Ali ibn Abi Thalib ini bisa jadi renungan, 
ليس الفتى من يقول هذا أبي ولكن الفتى من يقول ها أنا ذا. 
_Tidaklah Pemuda (sejati) itu yang mengatakan inilah bapakku (dan sematan lainnya), tetapi pemuda (sejati) itulah yang mengatakan inilah diriku (yang asli dengan kapasitas dan tanpa sematan yang tak perlu)_

Kejujuran akan kapasitas diri dan kesabaran pada proses menuju satu titik kesuksesan yang diimpikan memang tidak mudah, dia perlu diperjuangkan dengan kerja keras dan dikelola dengan mengukur diri dengan bijak. Jika kejujuran diabaikan dan kemampuan mengukur diri hilang, kerja keras yang sudah dilalui dalam waktu yang panjang akan berakhir dengan hancurnya bangunan kebaikan yg telah diusahakan.
"Tidak mudah menemukan jalan kesuksesan, teruslah bekerja dengan sukacita, jagalah semangat, dan berjuanglah sampai akhir" -Gonshiro Kubota-
Tabik,
Palu-Semarang 09102017
@fahmi.basyaiban

*Ilustrasi photo dari miniature model artist Michael Paul Smith

0 komentar:

Post a Comment