Tuesday, December 31, 2019

INSECURE JODOH



Bagi muda-mudi kisaran umur menjelang tiga puluh atau di awal tiga puluh, tekanan sosial untuk segera memiliki pasangan akan deras datang tanpa bilang-bilang. Karena menikah dianggap dianggap sebagai norma sosial yang harus dipatuhi dan kadang diikuti dengan pembenaran dalil agama, maka orang yang memilih menunda pernikahannya atau hanya karena tak kunjung dapat pasangan; mereka jadi objek penghakiman society pada banyak suku dan etnis di Indonesia.

Pada banyak keadaan, beberapa orang mengalami insecure terhadap dirinya karena tidak kunjung menikah. Tekanan sosial juga menekan kesehatan mental-nya karena stigma buruk yang datang berulang. Pada banyak kasus, stigma yang menekan mental justru datang dari keluarga terdekat. Orang yang semula merasa baik-baik saja dengan keadaan dirinya bisa berubah cepat menjadi insecure.

Insecure diri perihal jodoh bisa dialami laki maupun perempuan dengan bentuk yang berbeda. Namun tekanan soal jodoh yang membuat insecure pada perempuan ketimbang laki-laki itu lebih sering banyak terjadi. Mengingat dominasi budaya patriatkis yang kuat dalam memandang perempuan, alasan medis tentang perubahan hormone dan kesuburan pada perempuan setelah umur tiga puluhan, dan alasan sosial yang mengiringinya.

Insecure yang hadir pada perempuan, dari keterangan beberapa orang antara lain: “aku ga cantik”, “aku gemuk, ga ada yang mau sama aku”, “bentuk mukaku aneh”, “umurku sudah tua”, “aku punya sakit”, “aku terlalu mandiri dan independent sebagai wanita”, dan banyak hal yang membuat insecure lainnya.

Sementara itu pada laki-laki insecure soal jodoh lebih cenderung soal hal-hal yang bersifat finansial, meski insecure soal hal-hal fisik juga banyak muncul namun tak sebanyak pada perempuan.

Semua insecure di atas menjadikan kecemasan berlebih terhadap banyak hal dan mengurangi kebahagiaan dan penerimaan terhadap diri sendiri. Lalu bagaimana untuk menghilangkan itu semua? Jawabnya: tidak bisa dihilangkan.

Mari bahas sebuah cerita untuk lebih memudahkan, cerita dari teman dekat dan beberap orang tentang dealing with insecure soal jodoh, jalan ceritanya hampir sama jadi cukup satu yang dijadikan contoh. Sebutlah Uching (Pr) dan Linciw (Lk), Uching insecure terhadap beberapa hal dalam dirinya, sebelum memutuskan hubungan lebih serius, dia memutuskan untuk menyampaikan hal yang membuat dia khawatir.
“aku ini punya bulu/atau rambut kulit yang lebat dibanding perempuan lain. Kamu ga apa?”
“aku ini punya background keluarga yang tidak ideal seperti yang sudah pernah kuceritakan, kamu ga apa?”

Respon dari calon pasangannya, “hal-hal pokok yang menjadi tujuan nikah sudah terpenuhi pada dirimu, selebihnya aku menerima segala yang sempurna dan ketidaksempurnaan yang ada pada dirimu”

Hal yang membuat insecure soal jodoh terhadap calon pasangan, ketika diterima sebagai sebuah realitas, mengakuinya sebagai hal yang harus dihadapi, dan menyampaikannya pada orang yang tepat; ternyata tidak menjadi sebuah masalah yang besar karena akan selalu ada penerimaan jika bertemu pada orang yang tepat. Soal semesta mendukung atau tidak sampai akad, menjadi hak prerogative Allah. Yang memulai dengan baik-baik dan terlihat cocokpun, bisa berpisah karena memang takdir tidak tertulis untuknya.

Untuk orang yang insecure kemudian merasa tertekan dan melakukan sesuatu yang mereduksi kebahagiannya, please stop it. Kebahagiaan itu datang diawali dari penerimaan terhadap diri sendiri. Menerima sesuatu yang teranggap kurang pada diri sendiri adalah tindakan awal yang akan mendatangkan kebahagiaan lebih besar berikutnya.

Tabik, Semarang 31/12/2019

@fahmi.basyaiban

0 komentar:

Post a Comment