Sunday, March 1, 2020

HOPE FOR NO HOPE



2019, Saya berkunjung ke Kuala Lumpur untuk bertemu Faris kembali. Ya, hari ini dia tinggal di Kuala Lumpur bersama keluarganya. Anggota keluarga baru telah hadir, Zainab adik dari Qadir dan anak keempat Faris. "Ahlan wa sahlan Habib Fahmi.." dia menjemput dan menyambut langsung ke Stasiun MRT Cochrane yang tak jauh dari tempat tinggal dia sekarang. Muhammad dan Qadir menyambut sesampainya kami di rumah. Mereka tampak lebih besar dari terakhir bertemu 2017. "Kami sudah menunggu dari tadi. Mari makan dulu". Sepiring besar Mandi, Sup Ayam, Sayur, dan acar terhidang di ruang tamu. Muhammad dan Qadir ikut menemani dengan bermain di ruang tamu. Selesai makan, Faris bercerita program S2nya sudah selesai, draft terakhir thesis-nya sudah di-acc dan tinggal meninggalkan sidang.
Kembali ke 2016, saat diskusi setelah kelas bahasa Indonesia. Malaysia sepertinya jadi pilihan yang baik dibandingkan Indonesia untuk refugees yang memiliki skill akademik atau berlatar pendidikan tinggi. Penghargaan terhadap skill dan peluang pekerjaan untuk orang asing lebih terbuka.

Hal ini diperkuat dengan informasi dari sesama Yamani Diaspora yang sebelumnya sudah masuk Malaysia paska perang untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Pun saya menambahkan informasi dari kolega refugees berpendidikan tinggi dari beberapa negara yang dilanda perang juga berkarya di perguruan tinggi Malaysia lepas selesai program magister atau doctoral.

Sebagai orang yang punya gelar akademik formal dan memiliki sanad classical Islamic Knowledge yang secorak dengan alam melayu; Faris punya kesempatan besar lebih berkembang di Malaysia. Paruh kedua 2017, Faris menghubungi kembali bahwa dia mendapat LoA dari University Sultan Zainal Abidin, Kuala Trengganu Malaysia. Dia gembira, harapan yang selama ini terlihat kecil di tengah kebingungannya bisa menjadi lebih nyata. Pun diikuti harapan lebih besar akan masa depan keluarga dan anak-anaknya. Sampai program masternya selesai, dia berjauhan dengan keluarganya untuk sementara. Setelah keadaan dan kesempatan lebih baik, keluarganya akan diajak boyongan ke Malaysia. 

2019, dia menyelesaikan masternya dalam kajian ulumul hadits dengan kajian tentang Muhadits Imam ibn ad-Dabi' az-Zabidiy. Atas jejaring Hadrami Descent, dia sekarang mengajar di Maahad Miftahil Jannah milik Syed Amru bin Abdullah al-Marzaq. Istri dan anaknya menyusul, dengan pendidikan terakhir istrinya di Daru az-Zahra - Yaman, istrinya juga dipercaya untuk mengajar di Maahad.

Sekecil apapun kelihatannya harapan untuk mencapai sesuatu pada seseorang yang sedang bercerita pada kita di tengah kesusahan yang sepertinya kita juga tak tahu mau urun rembug apa. Mendengarkan dan membesarkan harapan adalah cara terbaik. Mendengarkan aktif tanpa judging selain menyehatkan bagi mental lawan bicara, bisa jadi ia menjadi sumber pahala tak berkesudahan karena menyelamatkan orang dan keluarganya dari emosi buruk dan hal yang terderivasi darinya.

Terimakasih Syaikh Faris atas banyak ilmu, sanad ilmu yang terbagi, juga pengalaman hidup untuk tetap membesarkan harapan dan berbaik sangka akan takdir terbaik, meski keadaan sepertinya tidak mendukung dalam pandangan manusia.

0 komentar:

Post a Comment