Friday, July 27, 2018

PERTANYAAN "KAPAN" [Part 2]


"Kamu kan sudah lebih dari siap untuk menikah. Nunggu apa lagi? Mau sampai kapan?" Pertanyaan demikian atau yang semisalnya sering datang pada lajang yang dianggap sudah lebih dari sekedar siap untuk menikah. Mereka setidaknya sudah melewati kriteria untuk disebut siap dan layak. Tapi mengapa tak kunjung berpasangan? Ditambah rekan sejawat mereka semasa menempuh pendidikan sudah memiliki momongan yang lebih dari satu.

Orang-orang dengan deskripsi di atas adalah orang yang paling sering menjadi sasaran pertanyaan "kapan". Dari pertanyaan yang halus sampai pertanyaan yang menyindir itu mengalir tak tertahankan pada mereka. 
Apa sebenarnya yang membuat mereka tak kunjung "menggenap" padahal secara kasat mata, mereka layak dan siap untuk sudah melangkah?

Berikut beberapa hal yang saya temui yang mungkin bisa sedikit memberi persepsi bahwa mereka yang memilih tak kunjung menggenap memiliki alasan yang sebaiknya kita arifi dan hargai secara proporsional. Boleh jadi karena tak mengetahui informasi secara utuh, akhirnya lahirkan penghakiman yang tak adil.

Pertama, Sebutlah April (nama orang), usia 20an sudah menyiapkan pernikahannya yang akan digelar sebulan lagi. Undangan telah disebar, gedung telah dipesan, katering sudah siap, dan berkas pernikahannya masuk ke kantor KUA. Hari akad tinggal dua minggu lagi, hari yang semula menjadi hari pemantapan persiapan akad, berubah menjadi hari pembatalan semua persiapan yang telah diupayakan. Rencana pernikahan dibatalkan karena ada sesuatu hal yang mengharuskan semuanya batal. Butuh lebih dari satu tahun bagi April untuk bisa "move on" dan lepas dari stressor yang menekannya. Belum lagi rasa malu yang ditanggung tidak hanya dirinya namun juga keluarganya dari pembatalan itu.

Kedua, sebutlah Kamilia, usia dua puluhan, bekerja di salah satu perusahaan swasta ibu kota setelah menyelesaikan pendidikannya di luar negeri. Dua tahun terakhir meniatkan diri menjalin hubungan serius menuju pernikahan dengan teman dekatnya. Dua keluarga sudah bertemu, persiapan sudah dilakukan, dan sudah ada kesepakatan lisan. Semuanya berhenti, beberapa bulan kemudian teman dekatnya menikah dengan orang lain. Bagi perempuan, menghadapi kenyataan demikian tidaklah mudah. Terhempas keras dari harapan yang sudah dibangun. 

Ketiga, sebutlah Priska, anak rantau dari Sumatera, bekerja di ibu kota. Meniatkan diri untuk menikah sejak empat tahun lalu, namun urung dilaksanakan karena orang tuanya tiba-tiba terkena stroke cukup berat. Orangtuanya hanya bisa terbaring di tempat tidur, syaraf menelannya mengalami masalah sehingga harus dipasang sonde untuk pemberian makan. Rencana pernikahannya ditunda karena sebagian besar tabungan dan gajinya untuk biaya perawatan dan pengobatan orang tuanya.
Tiga kisah di atas hanyalah sebagian kecil sebab yang mungkin menjadi alasan kenapa teman dan rekan kita tak kunjung menikah. Ketiganya mungkin teranggap biasa dan terlalu melankolis bagi sebagian orang, tapi tiga kisah di atas itu merupakan ujian kesehatan mental dan jiwa yang tidak semua orang punya resilience terhadapnya. Ketiga orang ini dalam kehidupan sehari-harinya terlihat biasa biasa saja, namun butuh dari sekedar sabar dan kuat untuk begitu. 
Bagi yang tidak sanggup, stress dan gangguan lainnya bisa hadir dan memperburuk kualitas hidup, produktivitas, dan juga memperburuk kualitas interaksi sosial dengan lingkungannya. Boleh jadi pertanyaan "kapan" bisa memicu stress jika disampaikan tidak dengan hati hati. Dan yang demikian jumlahnya tidak sedikit.
Bagi mereka yang masih melajang, bukan berarti mereka tidak mampu dan tidak mau menikah.. bisa jadi mereka sedang banyak mengalami ujian yang mungkin tidak semua orang sanggup menghadapinya dengan tetap terlihat baik-baik saja. Maka mendahulukan empati pada lajang lebih arif dibanding bertanya pertanyaan "kapan".


Tabik, 
Semarang, 01 07 2018
@fahmi.basyaiban
___
Sumber Gambar: cattime.com

0 komentar:

Post a Comment