Friday, July 27, 2018

PERTANYAAN "KAPAN" [PART 3]


Setelah lepas dari pertanyaan kapan menikah, bukan berarti lepas dari rentetan pertanyaan berikutnya. Pasangan yang sudah menikah pun beberapa waktu kemudian akan menjadi sasaran pertanyaan "kapan" berikutnya. "Sudah menikah setahun lebih, kapan punya anaknya?" Pertanyaan yang tampak wajar dan biasa saja bagi mayarakat kita di Indonesia, kadang dijadikan pertanyaan basa basi maupun pertanyaan yang bertujuan baik, tanpa ada maksud jelek sedikitpun. Namun dari yang teranggap biasa itu, cobalah untuk membuka pandangan dari perspektif yang berbeda dan banyak mendengar agar pertanyaan yang diniatkan baik itu menjadi tidak menjadi hal yang menyakitkan bagi yang ditanya.

Salah satu pasangan yang merupakan sahabat saya pernah bercerita bahwa hampir setiap bulan istrinya menangis sesaat setelah melihat test-pack. Garis yang diharapkan tidak muncul yang menandakan ia tak kunjung hamil meski telah menikah dalam hitungan lebih dari satu tahun. Sebagai seorang wanita, yang bersangkutan merasa belum sempurna jika belum menjadi seorang ibu. Perasaan insecure hadir karena yang bersangkutan lebih dari sekedar dikatakan sehat dan subur secara medis, namun yang diharapkan tak juga datang. Beruntung dia memiliki suami dan keluarga yang support dan menguatkan sehingga kesehatan mentalnya terjaga. Hingga ditahun kedua pernikahannya, doanya terkabul dengan hadirnya buah hati.

Lain cerita dengan sahabat saya yang lain, sebut saja dengan Astria. Dia sudah menikah lebih dari dua tahun. Tekanan dari keluarga dengan pertanyaan kapan punya anak terus berdatangan, beberapa sampai pada pemberian stempel sebagai wanita mandul. Suatu hari vonis dokter itu datang dengan bahasa yang tidak mengenakkan bagi kesehatan mentalnya, "Bagaimana bisa terbuahi? Kalau telurnya tidak pernah matang". Pernyataan dokter itu mengguncang dan menekan keseimbangan emosi dan jiwanya, tentu hal ini tidak baik untuk kesehatan mental. Stress, menangis, mengucilkan diri, dan perasaan kosong melingkupi dirinya dalam beberapa waktu. Beruntung dia memiliki pasangan yang bisa menguatkan, "lebih dan kurang yang ada pada dirimu adalah konsekuensi aku menerimamu sebagai istri. Setidaknya kita masih bisa berikhtiar dengan ikhtiar maksimal dari pada menyerah dan murung diri". Tapi dukungan suaminya saja tidak cukup, karena beberapa orang diinternal keluarganya malah melakukan hal sebaliknya. Emak emak lambe turah itu ada di mana mana, jenderal !!

Cerita ketiga sebutlah Hamidah, setelah sekian tahun berikhtiar agar memiliki momongan, hari kelahiran yang ditunggu datang. Perasaan mengharu biru datang karena perasaan menjadi wanita seutuhnya terwujud. Kelahiran yang ditandai tangisan bayi mengharubirukan dirinya dan keluarganya. Rasa syukur pada Pemilik langit dan bumi tak terhenti mengalir dari lisan siapa saja yang hadir. 
Lima menit kemudian semuanya berubah, bayi yang mendatangan kebahagiaan sesaat itu meninggal dunia. Ya, hanya lima menit kebahagian berubah menjadi tangis pilu dan sunyi senyap keadaan. Ujian itu membawa dia ke titik terendah harapan dan kebahagiaan dari titik normalnya. Ia mengurung diri lebih dari sebulan tidak menemui siapapun dan mau ditemui siapapun kecuali beberapa orang saja. Butuh lebih dari satu tahun untuk membuat dirinya merasa lebih baik dan bisa beraktivitas seperti sebelumnya. Pertanyaan "kapan punya anak" yang kadang hadir dari orang yang tidak mengetahui peristiwa yang pernah dialaminya, selalu membuat hatinya panas dan tak jarang membuatnya menangis.
Tiga cerita di atas hanyalah contoh kecil di balik dari orang-orang yang mungkin sering ditanya "kapan punya anaknya". Bisa saja orang yang punya kisah hidup demikian banyak berada di sekitar kita, bisa saudara, tetangga, atau rekan dekat. Orang-orang demikian membutuhkan lebih dari sekedar pertanyaan kapan, mereka lebih membutuhkan lingkungan yang menguatkan agar mereka bisa kuat dengan ujian tersebut. 
Lingkungan yang mendukung kesehatan mental itu telihat sepele, namun sejatinya menyelamatkan jiwa secara tidak langsung. Dalam kondisi emosi dan mental yang sedang tidak stabil, tidak sedikit orang yang diberi ujian demikian berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Janganlah jadi bagian orang-orang yang melemahkan. Mari selamatkan jiwa orang-orang terdekat dengan hal yang sederhana: berempati dan menahan diri dari penyataan dan pertanyaan yang menyakiti orang lain secara langsung maupun tidak langsung.
Semoga Allah kuatkan orang orang yang sedang diuji, dan jadikan bahagia sebagai ujung ujiannya.

Tabik, 
Semarang, 16 07 2018
@fahmi.basyaiban

0 komentar:

Post a Comment