• Jadi Navigator

    so kecil apapun kemampuan dan skill yang dipunya tentu itu akan bermanfaat buat orang lain, dan kemanfaatan itu nantinya akan menjadi burhan (bukti) yang akan mengantarkan kita ke surga...

  • Sepotong Senja Pantura

    Ombak laut kami begitu bersahabat, sehingga kami cukup menggunakan perahu kecil nan sederhana untuk mengarunginya untuk sekedar menyambung hidup

  • Sederhana

    sederhana itu cinta kita cinta yang disatukan semesta cinta yang ada sebab Tuhan mengingikannya....

  • Penghulu Istighfar

    اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, خَلَقْتَنِي, وَأَنَا عَبْدُكَ,

  • Mengejar matahari

    Selalu saja ada kenikmatan dan rezeki yang diberikan Allah pada hambanya, kita aja yang mungkin sering sombong dengan tidak bersyukur. Rezeki itu bukan cuma hal yang bersifat materi, tapi juga hal-hal yang bersifat abstrak, seperti kesehatan, dan kesempatan melihat keindahan ciptaannya... karena tak semua orang dapat memiliki dan merasakannya

  • Enter Slide 6 Title

    This is slide 6 description.

  • Enter Slide 8 Title

    This is slide 8 description.

  • Enter Slide 9 Title

    This is slide 9 description.

Friday, January 26, 2018

KHAT DAN IMLA'



  • Awal belajar bahasa Arab dahulu, ada satu mata kuliah wajib yang harus diambil semua mahasiswa. Mata kuliah itu berjudul "khat", inti dari mata kuliah ini adalah bagaimana menulis huruf Arab dengan baik dan benar. "aduh ngapain ada mata kuliah begini, mbalik kayak anak-anak saja".. Di akhir kuliah saya dapat nilai C. #haha 
    Perkara menulis huruf Arab itu sepertinya sepele, tapi sesuatu yang dianggap sepele ini malah jadi penting. Semua huruf Arab itu ada kaidah penulisannya. Ada kelompok huruf yang ditulis di atas garis batas, ada pula yang harus ditulis di bawah garis, ada pula huruf yang sebagian ditulis dibagian atas garis batas sebagian lainnya ditulis dibawah garis batas. Contoh paling mudah adalah membedakan antara penulisan huruf lam dan huruf kaf. Jika kedua huruf ini ditulis dan disejajarkan, dan tidak terlihat perbedaannya selain lebar dan tidaknya, maka penulisannya masih salah. 
    Paduan antara kecakapan menulis serta memahami ilmu sharf dan nahwu itu adalah awal menguasai ilmu alat ini. Dan namanya ilmu alat akan digunakan untuk membuka ilmu-ilmu lain bepengantar bahasa Arab. 
    Selain kecakapan menulis, ada kecakapan lainnya yang diperlukan untuk lolos dari mata kuliah ini. Apa? Imla', kemampuan konversi ucapan dalam bahasa Arab kedalam tulisan secara benar dan tepat. Tanpa kemampuan ini jaminan mutu akan kesulitan menyelesaikan mata kuliah lain yang semakin kompleks. Misal sang guru mengimla'kan kata al-Fahsya', kemudian murid menulisnya dengan الفحش, maka tulisan tersebut salah. Karena yang dimaksudkan guru adalah الفحشاء. 
    Kemampuan Imla' ini berhubungan dengan penguasaan kosa kata, kemampuan mendengarkan, menganalisis kalimat yang terucap, mengasosiasikan dengan konteks pembicaraan dan penulisan secara bersamaan. Kemampuan ini harus dimiliki seorang pembelajar dengan mengulanginya berulang ulang agar terlatih. Inilah kemampuan yang dimiliki Zaid ibn Tsabit sehingga dia diangkat sebagai sekretaris nabi untuk menuliskan wahyu.
  • Pun dalam sejarah perkembangan ilmu dalam peradaban Islam, banyak ulama yang mengimla'kan gagasannya, kemudian sang murid menuliskannya menjadi sebuah kitab yang akhirnya sampai pada kita hari ini. Misalnya kitab ar-Risalah-nya Imam Syafi'i, Imam Syafi'i mengimla'kan pada muridnya langsung. 

  • PENULISAN SHALAT
    Dulu guru kami - Ustadz Humam Abu Bakr- pernah mengingatkan cara penulisan kata Shalat, ada dua cara menuliskannya. Yang pertama ditulis صلاة, sedangkan yang kedua ditulis صلٰوة. Tapi tidak pernah kami diajari dengan penulisan صلة. 

  • Terima kasih untuk "ustadzah" televisi swasta, anda telah mengingatkan kembali pelajaran yang pernah diajarkan guru-guru kami dalam khat dan imla'. Terima kasih untuk guru-guru kami yang pernah dengan sabar mengajarkan pentingnya belajar dari dasar. Memberitahu kami bahwa dalam mencari ilmu dan menyampaikan ilmu itu harus dengan persiapan dan kemampuan, terutama kemampuan mengukur diri dan sikap. 
    Tabik, 
    05122017

MASJID GURU TUA


Dari dua perjalanan dua minggu ke Indonesia Timur bulan lalu, dari sekian masjid di beberapa kota, di masjid ini yang paling nyaman dan menautkan hati. 

Bangunannya tidak terlalu besar, namun nyaman dan hangat. Hangat karena orang-orang di dalamnya ramah bukan karena megahnya gedung. Di sini seperti bertemu saudara jauh, hanya dengan menyebutkan nama dan fam sudah cukup jadi password untuk dianggap saudara, hingga diajak mampir ke rumah, disuguhi kudapan lezat, dan ketika mau pulang "nanti kalau ente pulang, titip salam untuk abah dan ajus". Ces.. Adem, perjalanan sendirian menjadi tidak membosankan karena dipertemukan saudara saudara baru. 

Inilah akhlak jamaah Arab Palu yang hangat dan memuliakan tamu. Selain keramahan, sepertinya saya harus banyak belajar ukhuwah sesama jamaah di Palu. Perbedaan pandangan furu'iyyah disikapi dengan arif di sini sejak dulu. Inilah salah satu jejak kebaikan Guru Tua yang tidak terlihat namun bisa dirasakan. 

Tiada yang menyangka dari masjid kecil dan madrasah kecil yang dibangun Guru Tua Sayyid Idrus ibn Salim (SIS) al-Jufri ini akan membesar menjadi lembaga pendidikan terbesar di Indonesia Timur yang memiliki ribuan madrasah yang tersebar dari Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, hingga Maluku. Hingga dari jasanya ini, beliau diangkat menjadi pahlawan bidang pendidikan dari Palu. Jalan utama dan bandara di Palu tersemat namanya: SIS al-Jufri atau Guru Tua. 

أن الله يعلي درجاته في الجنة وينفعنا به وبعلومه وأسراره في الدين و الدنيا والآخرة. 
@fahmi.basyaiban
191117

SEJATINYA MU'MIN


Yang membedakan mu'min dengan selainnya adalah sikap ia terhadap segala sesuatu. Jika diuji dengan kelebihan, ia akan menjadi hamba yg terus bersyukur; dan itu baik untuknya. Pun ketika diuji dengan kekurangan dia akan tegar dan bersabar (menerimanya sebagai takdir dari Allah, dan mengusahakan yang terbaik) ; dan itu baik untuknya. Dan pokok dari membangun itu semua: Husnu adh-dhan Billahi Rabbi al-'Alamin. 
071117
@fahmi.basyaiban

JAUH CITRA DARI REPUTASI


Kasus DH menyeruak publik Indonesia, citra sebagai seorang peneliti moncer Indonesia di negeri kincir angin itu terbuka perlahan dengan gegap gempita di social media, hingga akhirnya yang bersangkutan tidak punya pilihan lain selain mengakui bahwa api jauh daripada panggang, jauh citra daripada reputasi. Publik pun dari ilmuwan dalam negeri, ilmuwan diaspora, pelajar Indonesia, hingga netizen ramai memperbincangkannya dengan sindiran, tak jarang juga dengan umpatan.
Dari kejadian ini, ada lintasan pikiran di benak bahwa kejadian semacam ini bukan hal yang asing di sekitar lingkungan yang pernah saya tinggali, baik ketika sekolah, merantau, kuliah, maupun di lingkungan kerja. Kasus DH ini hanya salah satu riak yang muncul dari sekian kasus serupa yang sering saya dan mungkin kita semua jumpai. Bahwa masyarakat kita yang suka dengan pujian dan hebat dengan cara mengaku telah "bla bla bla" atau menumpang nama terhadap lembaga, komunitas, atau entitas tertentu; merupakan hal yang ada di sekitar kita hanya saja kurang disadari. Sekalinya terbuka kedok pencitraannya, kita baru tersadar.
Pada beberapa perjalanan hidup di beberapa tempat dan komunitas, saya sering secara tidak sengaja mendapati hal yang "too good to be true" dan secara bersamaan saya dapatkan kenyataan di balik layar tentang hal yang direkayasa untuk pencitraan diri dan pujian bak selebriti. Atau setidaknya sandangan citranya terlalu besar terhadap kapasitas dan reputasi yang bersangkutan. 
***

Label Ustadz tak beriring dengan ilmu yang cukup
Beberapa tahun lalu ada tamparan keras bagi penyandang "ustadz televisi". Dalam sebuah acara yang disiarkan langsung itu sang ustadz mengutip kalimat "makanlah sebelum kamu lapar, dan berhentilah sebelum kamu kenyang". Kalimat ini populer dan seringkali dinisbahkan pada Rasulullah saw. Nasib apes bagi sang ustadz, mengutip kalimat tersebut didepan salah satu pakar hadits Indonesia Prof.Dr. KH. Ali Musthafa Yaqub _Allahu yarham_. Pak Kyai menegur sang ustadz artist itu dengan sangat keras, "ini hadits nabi?" tanya beliau. Sang ustadz menyiyakan, pak Kyai mengulangi pertanyaan yang sama dan sang ustadz masih menyiyakan. "bohong, ini bukan hadits nabi", kemudian pak Kyai menjelaskan bahwa kalimat ini adalah perkataan Tabib Sudan yang ditanya kenapa dia sehat dan jarang sakit. Betapa tidak enaknya menjadi sang ustadz mendapat teguran sekeras itu di depan jamaah dan saat siaran langsung. Tentu kita paham dan tau konsekuensi berbohong atas nama nabi, terlebih sang "ustadz" mencitrakan diri sebagai orang berilmu dan didengar nasihatnya. Kejadian itu berakhir dengan hilangnya sang ustadz saat jeda komersial sudah selesai.
Lain lagi kesempatan ada kompetisi Da'i televisi swasta, salah satu peserta yang juga sering dipanggil "ustadz" membawakan materi tentang Rasulullah Muhammad saw dengan mengutip buku Michael Hart tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah yang menempatkan Rasulullah saw pada peringkat pertama. Di saat sesi tanya jawab oleh Juri, dia ditanya "apa yang membuat Michael Hart menempatkan Rasulullah Muhammad saw pada posisi pertama?". Jawaban peserta dai itu tidak tuntas dan mencerminkan dia tidak selesai membaca buku yang dia kutip, sampai sang juri harus meluruskan. Di sesi yang lain, saat membawakan materi politik Islam dan mengutip M. Natsir; juri bertanya tentang buku pak M. Natsir yang dia kutip. Tak dinyana, si peserta tak pernah menyentuh gagasan Natsir yang terkumpul di Capita Selecta-nya. Sang peserta Dai ini hanya membaca kumpulan tulisan beberapa tokoh masyarakat tentang Natsir dalam rangka 100 tahun pak Natsir. 
***

Start-up Sociopreuner yang fenomenal
Lain lagi dengan pencitraan kasus di atas, ada juga kasus yang tidak mengemuka ke publik namun "pencitraan berlebih" pada sebuah start up business ini entah bagaimana caranya info tidak sedapnya sampai ke saya dengan lengkap dari beberapa orang yang pernah beririsan dengan pemilik start up tersebut. Perlu digarisbawahi start up yang ini sudah mendapatkan banyak penghargaan di manapun bahkan sampai dari luar negeri.
Dia memanfaatkan masyarakat yang dibina dan diberdayakan LSM lain untuk syuting liputan TV Swasta untuk diaku sebagai keberhasilannya. Anda kaget? Sang pemilik start up ini entah bagaimana tega mengklaim kegiatan komunitas lain demi syuting pencitraannya pada publik. Tidak cukup sampai di situ, kegiatan dari start up yang digadang-gadangnya itu, saat saya tanya relawan yg pernah ikut pada kegiatan start up tersebut jawaban menarik muncul "dah ga aktif kegiatan di sana, mi. Itu cuma ada kegiatan kalau ada kunjungan, liputan, atau syuting saja. Selebihnya ya pasif dan bisa dibilang ga ada apa apa".
Apapun yang namanya usaha business pasti ada marketing mix yang menjamin usaha tersebut berjalan baik atau tidak. Ada revenue yg dikejar untuk menutupi operasional dan keuntungan yang diperoleh agar start up business itu tetap eksis dan membesar. Tapi bagaimana hal itu bisa terjadi? Wong kegiatannya saja pasif bahkan hampir tidak ada.
Di satu sisi sang owner lebih menikmati "selebritas" dengan diundang mengisi acara "lalala Muda di berbagai kota (lalala adalah judul yang biasa dipakai di seminar misal Inspirator muda, motivator muda, dan hal yg sejenis). Dalam setiap sessi-nya dia selalu menampilkan pencapaian dan penghargaan yang sudah dia terima dari start up sociopreneur ala ala yang dibuatnya. Perlahan dia mulai ditinggalkan oleh kawan-kawan yang pernah satu tim dengannya karena sang owner lebih menikmati dunia "selebritas" yang diciptakannya ketimbang mengurusi dan membesarkan start up-nya yang digadang-gadang itu.
Sampai hari ini dia masih selamat dan bisa menutupi hal yang too good to be true tersebut, tapi sesuai dengan hukum alam yang berlaku sesuatu hal yang dibangun secara bathil akan rusak dan terbongkar pada masanya. Ketika kasus DH terjadi, salah satu pegiat komunitas yang pernah dimanfaatkannya berujar "saya mengapresiasi keberanian DH mengakui kebohongannya. Menurut saya ini lebih baik dibandingkan 'orang' yang mendapat penghargaan dari banyak pihak namun kebaikan yang diapresiasi itu hanya sebatas saat syuting dilakukan". 
***

Delusi Selebritas dan Dunia Simulacra
Contoh pertama perihal teguran pak Kyai di depan umum dan contoh Da'i yang tak menguasai materi itu memberi pelajaran tentang sebuah proses panjang sebelum menyandang penyematan gelar "ustadz". Modal pintar berbicara di depan umum, kamera face, dan busana muslim kekinian saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang layak dipanggil "ustadz". Jika diri menikmati panggilan "ustadz", menikmati selebritas, dan enggan mengoreksi seberapa besar kapasitas diri; maka kejadian di atas akan terus berulang pada pelaku yang lain. Kapasitas asli dari pelaku akan terbuka seiring berjalannya waktu.
Contoh kedua tentang kebohongan start up business berprestasi hanyalah sebagian kecil dari banyak kasus delusi selebritas, karena yang bersangkutan merasa kalau dirinya memiliki banyak penggemar, lalu dia bertingkah seperti selebriti, mengglorifikasi pencapaian yang sudah dilakukannya agar dia bisa diakui sebagai orang hebat dan berpengaruh.
Jangan buru-buru menvonis, mungkin saya dan anda juga mengalami delusi selebritas dan hidup dalam dunia simulacra dengan cara masing-masing. Misal, karena ingin dibilang hebat sebagai peneliti akhirnya menyematkan gelar peneliti lembaga lalala pada berbagai kesempatan. Padahal lembaga penelitiannya saja entah ada atau tidak, jika lembaganya ada; pertanyaan berikutnya hadir "penelitian apa yang sudah dilakukan sejak bergaung dengan lembaga itu". Beberapa waktu yang lalu ada orang yang kemana-mana mengklaim diri sebagai "Peneliti Lembaga blabla" diberi kesempatan dalam sebuah kanal video sebuah lembaga untuk menyampaikan materi tentang kritik filsafat Yunani, alih-alih menyampaikan materi berbobot ilmiah, yang ada hanya menunjukkan kapasitas asli peneliti yang tidak menguasai materi dan banyak prejudicenya.
Jadi, bagi saya, anda, dan kita semuanya mari coba lihat ke diri sendiri. Jangan jangan kita sendiri hidup dalam delusi selebritas dan dunia simulacra yang sudah lama terbangun seperti mengklaim sebagai anak tokoh, peneliti dunia, lalala mendunia, lalala muda, lalala tangguh, lalala super, dan sematan lainnya.
Mungkin kalimat dari Sayidina Ali ibn Abi Thalib ini bisa jadi renungan, 
ليس الفتى من يقول هذا أبي ولكن الفتى من يقول ها أنا ذا. 
_Tidaklah Pemuda (sejati) itu yang mengatakan inilah bapakku (dan sematan lainnya), tetapi pemuda (sejati) itulah yang mengatakan inilah diriku (yang asli dengan kapasitas dan tanpa sematan yang tak perlu)_

Kejujuran akan kapasitas diri dan kesabaran pada proses menuju satu titik kesuksesan yang diimpikan memang tidak mudah, dia perlu diperjuangkan dengan kerja keras dan dikelola dengan mengukur diri dengan bijak. Jika kejujuran diabaikan dan kemampuan mengukur diri hilang, kerja keras yang sudah dilalui dalam waktu yang panjang akan berakhir dengan hancurnya bangunan kebaikan yg telah diusahakan.
"Tidak mudah menemukan jalan kesuksesan, teruslah bekerja dengan sukacita, jagalah semangat, dan berjuanglah sampai akhir" -Gonshiro Kubota-
Tabik,
Palu-Semarang 09102017
@fahmi.basyaiban

*Ilustrasi photo dari miniature model artist Michael Paul Smith

WAKTU JANJIAN


Setelah berpartner dengan orang Jepang dalam setahun ini dan hidup dalam sistem jejepangan delapan jam setiap hari, dalam management waktu di luar maupun di dalam pekerjaan semuanya jadi ngikut: datang sebelum waktu yang dijanjikan.

Soal janji jadi tersetel otomatis 20 menit jam yg dijanjikan harus sudah sampai. Jika terjadi sesuatu di jalan semisal ada ban bocor, buffer time 20 menit itu bisa dipakai tanpa ada kejadian datang terlambat. Selama melakukan hal ini, dua kali mengalami masalah pada motor dan macet panjang menuju kantor; berakhir dengan sampai dengan selamat tanpa terlambat. 
Pada kehidupan di luar pekerjaan hal yang sama juga terjadi, tapi kadang berakhir dengan kekesalan pribadi. "gue lupa lagi ga janjian sama orang kantor atau orang yg terjejepangan".. Janjian jam 9 sudah datang dua puluh menit sebelumnya, yg diajak ketemuan masih entah ngapain.. Kan KZL.. #haha.. Kemarin pun terjadi hal yg mirip. Rencana sudah disusun, jam sudah disepakati, tapi episode telat selalu terjadi. Satu orang datang tepat waktu, satu orang terlambat, satu orang ditinggal karena tertidur dan lupa pasang alarm.. #lemparpalu

So? Jadi orang yang tepat waktu itu baik, tapi lihat-lihatlah siapa yang diajak janjian, karena klo pakai standar ketinggian akan berakhir dengan kekesalan.. #bwahaha 
29 08 17
@fahmi.basyaiban

JEMBATAN RASA


    • Al-Mawaddah fil Qurba, Sayidina Ali ibn Abi Thalib menjelaskannya sebagai “ittashilu baini wa bainikum”, padanan kata dalam bahasa Indonesia yang mendekati makna ini adalah “Jembatan Rasa”. Lalu bagaimana jembatan rasa ini terbangun? Pada siapa seharusnya terhubung?

      Air mata Nabi Muhammad yang semula terbendung akhirnya mengalir deras di pipinya, Ibrahim anak lelaki terakhirnya akhirnya meninggal dunia di usia yang masih sangat belia, 16 bulan di atas pangkuannya. Ibrahim menyusul anak laki-laki nabi terdahulu Qasim dan Abdullah yang juga meninggal pada usia yang belia
      . 
      Nabi berkata kepada Ibrahim yang sudah tak bernyawa dengan suara perlahan:
      "Hai Ibrahim, jika ini bukan perintah yang benar dan janji yang betul, dan sesungguhnya kami yang kemudian akan menyusul orang yang mendahului kami, niscaya dukacita kami terhadap kematian engkau lebih dari ini"

      Nabi terdiam sejenak, kemudian melanjutkan perkataannya. "Air mata yang berlinang dan hati yang berduka cita ini tidak berkata melainkan apa yang diridhai Rabb kami. sungguh kami sangat berduka cita sebab berpisah denganmu, Ya Ibrahim"

      karena kedukaan dan tangis Nabi terlihat oleh sebagian sahabat nabi yang hadir, sebagian dari mereka bertanya pada Nabi, "Duhai Nabi, mengapa engkau menangis, bukankah engkau pernah melarang kami menangisi orang mati?" mendengar perkataan beberapa sahabat, Nabi menjawab:
      "aku tidak melarang berduka cita, tetapi yang pernah kularang itu hanya mengangkat suara dengan menangis. apa yang kau lihat padaku adalah bekas apa yang terkandung di dalam hati dari rasa cinta dan sayang. Barang siapa yang tidak menampakkan kasih sayangnya, maka orang lain tidak akan menampakkan kasih sayang kepadanya"

      Jembatan rasa yang terbangun antara Ayah dan anak adalah bagian dari fitrah, ketika keduanya berpisah, ada rindu pada sebuah pertemuan. Perpisahan dengan kematian pun tak meruntuhkan jembatan rasa antara keduanya. 
    • ***
    • Tsauban Maula salah satu dari pembantu nabi, hari ini kita mengenalnya sebagai perawi yang meriwayatkan beberapa hadis shahih. Suatu hari Tsauban tampak murung dan bersedih. Wajahnya murung membayangkan tentang masa depannya. Rasulullah mendekat dan bertanya, “kenapa Tsauban?”. Tsauban menjawab, “Jika engkau wafat nanti, duhai nabi. engkau akan diangkat ke surga oleh yg Mahatinggi kemudian engkau akan dikumpulkan dengan setiap para Nabi. sementara aku, hanya pembantu sederhanamu. mungkinkah kita bertemu lagi?”. Tsauban dan Nabi masih sama-sama di dunia, namun dia rindukan pada kelangenggan menjaga jembatan rasa, terjaga sampai keduanya bertemu kembali di Jannah. Tsauban pun termasuk yang mendapatkan doa dari orang yang menjadi ujung yang lain dari jembatan rasa yang dibuatnya agar kelak di Jannah bertemu dan berkumpul bersama Nabi. 
    • ***
    Tubuh dingin dan ketakutan tercetak jelas pada wajah nabi pada awal turunnya wahyu, sesaat setelah Sayyidah Khadijah menyelimutinya, Nabi sedikit tenang dan berujar,
    “sungguh aku takut tentang hal yang akan terjadi pada diriku”
    “Tidak, sekali lagi tidak, demi Allah, Allah tidak akan akan menghinakan engkau selamanya, karena engkau penyambung silaturahim, membantu yang memerlukan, meringankan orang yang tidak punya, memuliakan tamu, dan menolong untuk kebenaran” Jawaban Sayyidah Khadijah menenangkan.

    Dua puluh satu tahun kemudian, delapan tahun setelah Nabi meninggalkan Makkah untuk hijrah ke madinah, sepuluh tahun setelah Khadijah wafat. Nabi dan ummat islam membuka kota Makkah. Setelah Fathul Makkah, Nabi pergi ke suatu tempat, sahabat yang melihat bertanya "Hendak kemana engkau Ya Rasulullah? “
    " Membangun tenda di Hujun"

    Taukah apa itu Hujun? Hujun adalah tempat dimakamkannya Sayyidah Khadijah. "shadaqti ya Khadijah | engkau benar Khadijah" 
    Kenapa Nabi berucap demikian? Hari itu Allah membuktikan ucapan tegar dari Khadijah yang menguatkan suaminya dua puluh satu tahun berlalu bahwa Allah tidak akan menghinakannya. Hari ini satu Makkah berislam dan tiada yang hinakan nabi seperti yang ditakutkan saat pertama kali wahyu turun. Nabi benarkan perkataan Khadijah. 
    Jembatan Rasa macam apa yang terbangun antara Khadijah dan Nabi saw? Jembatan rasa yang tetap kokoh meski keadaan yang tak mengenakan terus berjalan. 
    Jembatan Rasa macam apa yang terbangun antara Khadijah dan nabi saw? Jembatan rasa yang masih kokoh meski keduanya telah berpisah dunia. 
    Jika sudah benar pada siapa jembatan rasa itu dibangun, maka membongkarnya kembali bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia akan terawat dan melewati batas zaman dan waktu. Sebuah Jembatan yang dibangun dengan keimanan yang menguatkan fitrah yang abadi, tak berakhir, dan tak bertepi.. Maka bahagilah mereka yang membangun jembatan rasa yang berujung pada puncak kebahagiaan abadi hingga Jannah. 

060717
@fahmi.basyaiban

PERTEMANAN JAHAT


Dalam pertemanan jahat, sarkas, savage, dan antagonis adalah hal yang diperbolehkan bahkan dianjurkan, karena level makrifat tertinggi adalah munculnya hal hal tersebut. °

Misal ada yang mengeluarkan satu pendapat atau punya pandangan terhadap sesuatu, jangan harap akan ada komentar "wah.. Luar biasa.. Lanjutkan" atau kalimat semisal motivator "see you on top.." komentar yang datang adalah komen sadis, jahat, antagonis, dan bertabur bully. "jadi kamu lakukan ini untuk bisa dipuja? Dianggap hebat? Kalau hilang pujian dan anggapan hebat itu kamu jadi nothing kembali.." °

Lain kasus, ketika salah satu di antara teman jahat ini membutuhkan saran untuk masalah dalam hidupnya. "yang sabar ya", kalimat ini tidak akan pernah muncul. Yang muncul adalah "dikumbah" sampai lemes dan bersih. Barulah advice diberikan, advice yg antimainstream, "jahat" tapi straight to the point tanpa embel embel basa basi. ° "kamu JYAHAT"
"emang gue jahat, sarkas, dan antagonis.. " °

Meski jahat, pertemanan model ini memberikan sumbangan berarti berupa makan gratis, jalan-jalan, dan foto foto.. #hleeer #kyaaaa.. bukan.. Bukan itu.. Pertemanan ini menjaga diri agar selalu berpijak pada realitas dan menyenyahkan potensi menciptakan dunia simulacra terhadap diri sendiri. °

01 07 2017
@fahmi.basyaiban
📷: @selena_aylinova | 
Property: @yovayolanda | 
Penata property: @hidayahsunar | 
Loc: Balaikopi Jogokariyan °

KOPIAH


Salah satu nasihat kadang juga dimaknai teguran yang berulang-ulang dari ustadz saat di asrama adalah perkara sarung dan kopiah/songkok. "Kalau shalat usahakan pakai Sarung dan Songkok untuk menjaga jaminan kesucian pakaian. Pakai Songkok sebagai bagian dari membaguskan pakaian yang dikenakan untuk ibadah". Dan benar saja, setiap kali jamaah shalat ada salah satu di antara kami tidak pakai Songkok teguran itu datang, "Songkok kamu di mana?“ sampai kadang tegurannya cukup keras "apa perlu saya belikan songkok?" °

Lain waktu, ustadz memberi tahu bahwa kemanapun bawa kopiah/songkok untuk keperluan shalat. Hal ini dikarenakan ketika suatu masjid tidak ada imam nya, kami bisa langsung menggantikannya tanpa keraguan pada jamaah lainnya "masa sih imamnya ga pakai Songkok". Sebagai santri kami disiapkan untuk bisa jadi solusi jika ada keadaan ketiadaan imam, khatib, penceramah, atau keadaan lainnya. °

2 syawal kemarin saat berkunjung ke Jogja, bertepatan dengan waktu maghrib di masjid Kampus. Karena waktu libur lebaran, imam tetap masjid kampus pun ikut libur. Pengurus yang ada, mantan rektor UNY (saya lupa namanya) yang jadi jamaah tetap di Maskam UGM menawari beberapa orang untuk jadi imam, namun semuanya menolak. Tiada pilihan lain selain menawarkan diri, tapi satu kesalahan pada saat itu yakni tak bawa songkok/kopiah. Akhirnya beliau meminjamkan songkoknya, tentu dengan ukuran kepala yang kecil. Saya yakin penampilan dengan songkok kekecilan itu kurang terlihat bagus, tapi apa boleh buat. °

Saat itulah nasihat ustadz di asrama menyeruak kembali dengan jelas. Perkara sarung dan songkok memang terlihat sepele, tapi hal ini jadi ukuran di masyarakat pada penampilan standar seorang imam shalat. Semoga Allah berkahi guru-guru kamu semua atas nasihat yang terekam kuat sampai hari ini. °

300617 °
@fahmi.basyaiban

SEPIK GA MUTU




" kamu sehat-sehat saja kan? Aku tiba tiba mengkhawatirkan dirimu, soalnya cuaca lagi ga baik dan banyak orang yang sakit. Aku di sini sehat sehat saja, aku ngabarin ini biar kamu *tidak khawatir* (pakai bold). kabari Aku terus, dan jgn lupa makan malam."

Dialog di atas bukanlah kalimat yang terlontar dari seorang suami kepada istrinya, melainkan penggalan kalimat seorang laki-laki yang sedang "sepik-sepik" pada seorang wanita. Normal? Mungkin bagi sebagai orang dianggap normal. Namun anda mungkin terkejut jika mengetahui yang mengatakan demikian adalah seorang yang mengklaim dirinya seorang aktivis dakwah. Lebih terkejut lagi, yang bersangkutan adalah (oknum) aktivitis di sebuah lembaga yang seharusnya menjunjung adab bermuamalah dan menjaga kehormatan wanita. Pun yang disasar sepik-sepikannya adalah seorang muslimah yang selama ini berusaha menjaga dirinya sedemikian rupa. 

Rangkaian sepik-sepik ini hadir setelah yang bersangkutan mengungkapkan dirinya berniat untuk menikahi sang muslimah. Lalu apa bedanya antara antara remaja yang sedang pubertas dengan oknum aktivis ini? Ga ada beda.. Sama-sama alay dan norak. Noraknya malah double, satu dia sudah tau bahwa hal tersebut tak patut dan tak beradab tapi tetap melakukannya. Norak berikutnya, dia tau bahwa yang di-sepik adalah orang yang juga tahu bahwa hal itu tak patut. 

in my savage opinion... "Cowok yg mengajak nikah dengan sepik sepik adalah cowok yg harus dan sangat layak ditolak.
Karena bisa saja dia melakukan hal yg sama ke wanita lain." 

Jujur ini bukan pertama kalinya saya menjumpai fenomena demikian. Beberapa malah kawan saya sendiri ketika di kampus. Beberapa berakhir tidak jadi menikah, dan sebagian lainnya berhasil sampai menikah. 


Lalu bagaimana dengan tidak berhasil menikah? Hancur hati dan meninggalkan beban psikologis yang mengangga terutama di pihak wanita. Beruntung bagi mereka yang memiliki kemampuan recovery diri yang baik, mereka tidak akan berlarut dalam kesedihan yang ga mengenakan. Namun ga menutup kemungkinan hal yg sama juga terjadi pada laki-laki. Sebagai contoh, salah satu teman di Jogja yg juga seorang psikolog muda, bulan ini dia sedang menangani seorang pemuda yg mencoba melakukan bunuh diri dengan menenggak baigon. Apa sebab? Ditinggal pacarnya nikah. 
Alih-alih kebahagiaan yang ingin didapat, yang ada amalah menghancurkan diri sendiri dan orang yang (seolah) dicintai. 
In my savage opinion (again) "Cowok yang mendekati wanita untuk diajak nikah dengan sepik-sepik adalah cowok yang merendahkan kehormatan diri wanita"

Bagi mereka yang mengupayakan pernikahan dengan cara terhormat, meniatkan untuk ibadah, dan menjaga rasa agar tetap berpijak pada ketundukan ketaqwaan pada Allah, namun berakhir dengan tidak menikah saja bisa menimbulkan beban hati, lalu bagaimana dengan mereka yang mengumbar sepik sepik seolah hati berbunga bunga dan dunia serasa milik berdua, namun akhirnya tidak jadi menikah? 

Sebagai contoh lagi, jika pernah dolan ke Yayasan Dzikrul Ghafilin di Wonosobo yang khusus mengurusi orang orang dengan kelainan jiwa, di situ 80% dari 150 orang penghuninya adalah mereka yang bermasalah dengan persoalan cinta. 

Menikah adalah sesuatu yang sakral dan bisa mendatangkan keberkahan jika memang diniatkan sepenuhnya untuk ibadah pada Allah dan mengikuti sunnah Nabi. Ia juga cara menjaga kehormatan diri, menyatukan dua keluarga besar, dan upaya melanjutkan keturunan. Ketika hal tersebut tidak dijemput secara terhormat dan dengan cara terhormat pula. Lalu bagaimana itu semua bisa mendatangkan keberkahan? 

Tabik, 
21 05 2017

BELUM DATANG, MENUNGGU , DAN SUDAH PULANG



  • Dari sekian kali datang ke rumah sakit terutama ke poli spesialis mata, ada beberapa hal yang menjadi bagian dari realitas pelayanan kesehatan di Indonesia. 
    Pertama: belum datang, dulu saat masih di Jogja, kunjungan ke poli mata RS Sarjito adalah kegiatan rutin sejak mahasiswa. Menyempatkan datang pagi pagi sebelum jam 8 untuk dapat nomor antrian pertama dan berharap agar segera terlayani. Harapan tinggal harapan, kenyataannya dokter spesialis mata yg bertugas baru datang jam 10. 
    Kedua: menunggu, dulu pernah menunggu untuk dilayani dokter sampai selesai menempuh waktu hampir 4 jam baru dipanggil. Dengan waktu segitu sama dengan waktu yang perjalanan Jogja-Semarang dengan angkutan umum. Sampai ada teman yang kebetulan sedang co-as di poli mata; menawarkan mushaf "ini mushaf buat dibaca sambil nunggu, mi".
  • fahmi.basyaibanKetiga: sudah pulang, hari ini ketika sudah pindah ke semarang dan tau jadwal dokter praktek adalah jam 4 sore, selepas kerja langsung ke rumah sakit. Menunggu di antrian hampir satu jam, begitu sudah di depan loket, petugasnya bilang "dokternya sudah pulang mas". #jengjeng

    Ga bisa dipungkiri ini realitas pelayanan kesehatan umum di Indonesia. Terbatasnya SDM dokter spesialis menjadikan demand pasien yang butuh penanganan lanjutan menumpuk di satu tempat. Dengan jumlah pasien yg besar dan dokter terbatas menjadikan antrian panjang terjadi hampir setiap hari. 
    Untuk di Jogja dan Semarang saja keadaannya masih begitu, di daerah lebih parah lagi. Menunggu di loket pendaftaran lama, menunggu di poli lama, menebus obat pun harus menunggu lama. Praktis seharian penuh, waktu produktif orang habis untuk layanan kesehatan yg sebenarnya hanya butuh waktu pelayanan satu jam. Bisa terbayang kan, berapa banyak waktu produktif orang terbuang begitu saja. Manajemen rumah sakit memang bukan perkara mudah dan sederhana.. Melihat keadaan tersebut, klinik premium hadir menjadi alternatif bagi orang yang enggan antri panjang dan kecewa. Antrian tidak ada, jadwal bisa diatur, dan pelayanan yang lebih ramah. Tentu semua itu ditebus dengan harga yang tidak murah. 
    Jadi mau ke pelayanan kesehatan umum atau ke layanan kesehatan premium?

20/05 2017
@fahmi.basyaiban